Minggu, 11 Mei 2014

Keutamaan Mengkhatam Al Qur'an



~*~  Keutamaan Mengkhatam Al Qur'an  ~*~



Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan
ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW
“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?”

Beliau menjawab,
“Al-hal wal murtahal”

Orang ini bertanya lagi,
“Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,
“Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir
Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal”
(HR. Tirmidzi)


Generasi sahabat dapat menjadi generasi terbaik (baca; khairul qurun)
adalah karena mereka memiliki ihtimam yang sangat besar terhadap Al-Qur’an
Sayid Qutub dalam bukunya Ma’alim Fii Ath-Thariq menyebutkan
tiga faktor yang menjadi rahasia mereka mencapai generasi terbaik seperti itu

- Pertama karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber pegangan hidup,
sekaligus membuang jauh-jauh berbagai sumber-sumber kehidupan lainnya

- Kedua, ketika membacanya mereka tidak memiliki tujuan-tujuan untuk tsaqafah,
pengetahuan, menikmati keindahan ataupun tujuan-tujuan lainnya
Namun tujuan mereka hanya semata-mata untuk mengimplementasikan
apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan mereka

- Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliyah
Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan,
yang sama sekali terpisah dengan masa lalu
baik yang bersifat pemikiran ataupun kebudayaan
Tilawatul qur’an; itulah kunci utama kesuksesan mereka

Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan,
“Usahakan agar Anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah
minimal satu juz per hari
dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan
dan jangan kurang dari tiga hari”


(*) Keutamaan Membaca al-Qur’an

Dalam kitab Riyadhus Shalihin,
Imam Nawawi memaparkan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan membaca Al-Qur’an
Di antaranya:

1. Akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat
Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat”
(HR. Muslim)


2. Mendapatkan predikat insan terbaik
Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya”
(HR. Tirmidzi)


3. Mendapatkan pahala akan bersama malaikat di akhirat, bagi yang mahir mambacanya
Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya,
maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah”
(HR. Bukhari Muslim)


4. Mendapatkan pahala dua kali lipat, bagi yang belum lancar

“Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya,
maka ia akan mendapatkan dua pahala”
(HR. Bukhari Muslim)


5. Akan diangkat derajatnya oleh Allah
Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an),
dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain”
(HR. Muslim)


6. Mendapatkan sakinah, rahmat, dikelilingi malaikat, dan dipuji Allah di hadapan makhluk-Nya
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda,

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mempelajarinya,
melainkan akan turun kepada mereka ketengangan,
akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat,
akan dilingkari oleh para malaikat,
dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya”
(HR. Muslim)


(**) Keutamaan mengkhatamkan al-Qur’an

a. Merupakan amalan yang paling dicintai Allah

Dari Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW,
“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?”

Beliau menjawab,
“Al-hal wal murtahal”

Orang ini bertanya lagi,
“Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,
“Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir
Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal”
(HR. Tirmidzi)


b. Orang yang mengikuti khataman Al-Qur’an, seperti mengikuti pembagian ghanimah

Dari Abu Qilabah, Rasulullah SAW mengatakan,
“Barangsiapa yang menyaksikan (mengikuti) bacaan Al-Qur’an ketika dibuka (dimulai),
maka seakan-akan ia mengikuti kemenangan (futuh) fi sabilillah
Dan barangsiapa yang mengikuti pengkhataman Al-Qur’an
maka seakan-akan ia mengikuti pembagian ghanimah”
(HR. Addarimi)


c. Mendapatkan doa/shalawat dari malaikat

Dari Mus’ab bin Sa’d, dari Sa’d bin Abi Waqas, beliau mengatakan,
“Apabila Al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam,
maka malaikat akan bersalawat (berdoa) untuknya hingga subuh
Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam,
maka malaikat akan bershalawat/berdoa untuknya hingga sore hari”
(HR. Addarimi)


d. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW

Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sunnah Rasulullah
Hal ini tergambar dari hadits berikut:

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata,
“Wahai Rasulullah SAW, berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?”

Beliau menjawab,
“Khatamkanlah dalam satu bulan”

Aku berkata lagi,
“Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,
“Khatamkanlah dalam dua puluh hari”

Aku berkata lagi,
“Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”

Beliau menjawab,
“Khatamkanlah dalam lima belas hari”

“Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”

Beliau menjawab,
“Khatamkanlah dalam sepuluh hari”

Aku menjawab,
“Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah”

Beliau menjawab,
“Khatamkanlah dalam lima hari”

Aku menjawab,
“Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah”

Namun beliau tidak memberikan izin bagiku
(HR. Tirmidzi)



(***) Waktu mengkhatamkan Al-Qur’an

a. Keutamaan waktu yang dibutuhkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah SAW, beliau berkata,
“Puasalah tiga hari dalam satu bulan”

Aku berkata,
“Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah”

Namun beliau tetap melarang,
hingga akhirnya beliau mengatakan,
“Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan”

Aku berkata,
“Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?”

Beliau terus malarang hingga batas tiga hari
(HR. Bukhari)


Hadits ini menunjukkan batasan waktu paling minimal dalam membaca Al-Qur’an
Karena dalam hadits lain terkadang beliau membatasi hanya boleh dalam 5 hari,
dan dalam hadits yang lain dalam tujuh hari
Maka dari sini dapat disimpulkan,
batasan paling cepat dalam mengkhatamkan Al-qur’an adalah tiga hari


b. Larangan untuk mengkhatamkan kurang dari tiga hari

Hadits di atas juga mengisyaratkan larangan Rasulullah saw
untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari
Hikmah di balik larangan tersebut,
Rasulullah SAW katakan dalam hadits lain sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Amru, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak akan dapat memahami/menghayati Al-Qur’an,
orang yang membacanya kurang dari tiga hari”
(HR. Abu Daud)


c. Rasulullah SAW tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam

Dari Aisyah ra, beliau mengatakan,
“Aku tidak pernah tahu Rasulullah SAW mengkhatamkan Al-Qur’an secara keseluruhan pada malam hingga fajar”
(HR. Ibnu Majah)


(****) Sunnah dalam teknis mengkhatamkan Al-Qur’an

Adalah Anas bin Malik, beliau memiliki kebiasaan apabila telah mendekati kekhataman dalam membaca Al-Qur’an,
beliau menyisakan beberapa ayat untuk mengajak keluarganya
guna mengkhatamkan bersama

Dari Tsabit al-Bunnani, beliau mengatakan
bahwa Anas bin Malik jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam hari,
beliau menyisakan sedikit dari Al-Qur’an,
hingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya
dan mengkhatamkannya bersama mereka
(HR. Darimi)


Hikmah yang dapat dipetik dari hadits Anas di atas,
adalah bahwa ketika khatam Al-Qur’an merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah
Dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga,
akan dapat memberikan berkah kepada seluruh anggota keluarga
Karena, semuanya berdoa secara bersamaan kepada Allah
mengharapkan rahmat dan berkah dari-Nya


(*****) Kiat-Kiat Agar Senantiasa Dapat Mengkhatamkan Al-Qur’an

Ada beberapa kiat yang barangkali dapat membantu dalam mengkhatamkan Al-Qur’an,
di antaranya adalah:

1. Memiliki ‘azam’ yang kuat untuk dapat mengkhatamkannya dalam satu bulan
Atau dengan kata lain memiliki azam untuk membacanya satu juz dalam satu hari

2. Melatih diri dengan bertahap untuk dapat tilawah satu juz dalam satu hari
Misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan setengah juz,
baik pada waktu pagi ataupun petang hari
Jika sudah dapat memenuhi target,
diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali membaca

3. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an yang tidak dapat diganggu gugat,
kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat penting
Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya setiap hari
Waktu yang terbaik menurut penulis adalah ba’da subuh

4. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita
Lebih baik lagi jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil,
yang meringankan lisan kita untuk melantunkannya
Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan ketika membacanya

5. Usahakan untuk senantiasa membersihkan diri (baca: berwudhu’) terlebih dahulu
sebelum kita membaca Al-Qur’an
Karena kondisi berwudhu’, sedikit banyak akan membantu menenangkan hati
yang tentunya membantu dalam keistiqamahan membaca Al-Qur’an

6. Membaca-baca kembali mengenai interaksi generasi awal umat Islam,
dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,
baik dari segi tilawah, pemahaman ataupun pengaplikasiannya

7. Memberikan iqab atau hukuman secara pribadi,
jika tidak dapat memenuhi target membaca Al-Qur’an
Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal surat tertentu, dan lain sebagainya,
yang disesuaikan dengan kondisi pribadi kita

8. Diberikan motivasi dalam lingkungan keluarga
jika ada salah seorang anggota keluarganya yang mengkhatamkan al-Qur’an,
dengan bertasyakuran atau dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah


Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sifat Rasulullah, para sahabat, salafuna shaleh,
dan orang-orang mukmin yang memiliki ketakwaan kepada Allah
Seyogyanya, kita juga dapat memposisikan Al-Qur’an sebagaimana mereka memiliki semangat,
meskipun kita jauh dari mereka

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”
(Qs. Al Ankabut: 69)





Dari ibnu Mas'ud ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"kamu hendaklah membaca al-qur'an
karena kamu akan diberi ganjaran atas bacaan kamu tersebut.
ingatlah, aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf,
akan tetapi alif (ganjarannya) sepuluh,
lam (ganjarannya) sepuluh,
dan mim (ganjarannya) sepuluh
semua tiga puluh"




Referensi :
Selasa, 17 April 2007 @ 12:24
Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2007/04/17/158/keutamaan-mengkhatamkan-al-quran/#axzz31PEStLtI
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
*

Minggu, 04 Mei 2014

Romantisnya Rasulullah




~*~  Romantisnya Rasulullah  ~*~



Buat para suami-suami, seringkali kita memperdebatkan dan memperbincangkan permasalahan yang berkaitan dengan kebahagiaan berumah tangga
Seorang bapak (suami), pernah bertanya dalam sebuah dialog interaktif konsultasi keluarga di sebuah situs Islam lokal,
tentang bagaimana mendapatkan kasih sayang dan pengabdian istri
Dan yang tidak kalah ‘heboh’, tidak sedikit pertanyaan yang ujung-ujungnya ingin melakukan poligami dengan berbagai alasan tentunya

Poligami, jelas sangat diperbolehkan dan dicontohkan oleh baginda Rasul
meski pun dalam tradisi dan budaya masyarakat kita,
beristri lebih dari satu masih merupakan hal yang dianggap tidak lazim bahkan tabu
Namun sepertinya, ada hal yang sering terlupakan oleh para suami,
sudahkah kita mencontoh Rasulullah dalam urusan romantisme berumah tangga?
Sehingga Nabi SAW karena romantismenya yang luar biasa terhadap para istri beliau
tidak pernah kita mendengar ada masalah yang besar dalam rumah tangga bersama para istrinya

Jadi, untuk sementara kesampingkan dulu masalah seperti ketidakbahagiaan beristri yang usianya lebih tua,
rumah tangga tidak harmonis,
sehingga memunculkan wacana yang saat ini sedang ngetrend;
poligami

Padahal sesungguhnya jika kita mau merenunginya kembali,
bisa jadi permasalahan utamanya sangat sederhana;
kita kurang romantis!
Mari kemudian kita cermati tauladan dari Rasulullah,
manusia agung yang sangat romantis terhadap istri-istrinya
sebelum kita bicarakan niat atau kemungkinan untuk berpoligami


Rasulullah SAW adalah contoh yang terbaik seorang suami yang mengamalkan sistem Poligami
Baginda Nabi sangat romantis kepada semua istrinya

Dalam satu kisah diceritakan,
pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya
dan bertanya,

“Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?”


Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata,
“Aku akan beritahukan kepada kalian nanti”


Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda,
Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing
sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain

Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi
dan mengajukan pertanyaan yang sama

Lalu Rasulullah SAW menjawab,
“Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya”


Kemudian, istri-istri Nabi SAW itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin
dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing

Masih ada amalan-amalan lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan suasana romatis
seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Apabila pasangan suami istri berpegangan tangan,
dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka”

Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah
Beliau acapkali memotong kuku istrinya,
mandi janabat bersama, atau mengajak salah satu istrinya bepergian,
setelah sebelumnya mengundinya untuk menambah kasih dan sayang di antara mereka

Baginda Nabi SAW juga selalu memanggil istri-istrinya dengan panggilan yang menyenangkan
dan membuat hati berbunga-bunga

“Wahai si pipi kemerah-merahan”
adalah contoh panggilan yang selalu beliau ucapkan tatkala memanggil Aisyah


Itulah sedikit contoh romantisme Rasulullah SAW yang dapat kita teladani
dan praktekkan dalam kehidupan berumah tangga
Tentu, masih banyak contoh romantisme lainnya


Kepada suami-suami yang baik,
mulailah bersikap lembut dan berupaya membuat sang istri selalu mengembang senyumnya
Peganglah tangan istri anda setiap waktu, setiap kesempatan

Begitu pula para istri-istri yang sholehah,
peganglah juga tangan suami anda untuk menghapuskan segala dosa-dosa

Jadi, jika kita bisa meniru romantisme ala Rasul,
sehingga istri pun membalas dengan yang tidak kalah romantisnya,
masalah mana lagi yang sempat mampir dalam bahtera rumah tangga kita?

Ibarat kata, tidak ada makanan di rumah pun bisa diselesaikan berdua dengan tetap tersenyum,
bukan begitu?
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini



Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat


***
Referensi :
Dari eramuslim.com
Shared By Catatan Catatan Islami Pages
http://kembanganggrek2.blogspot.com/2011/07/romantisnya-rasulullah-saw.html
*

Calon Menantu




~*~  Calon Menantu  ~*~



Ada sepenggal cerita yang sangat bagus untuk mengingatkan kita / antum sekalian yang mengikrarkan dirinya sebagai kader dakwah
Ada pesan spiritual yang dalam di akhir cerita ini,
semoga bisa menyadarkan kita kembali untuk dapat meningkatkan kualitas ibadah kita
selamat membaca ....


”Ass, Kak. Aku baru nyampe rumah.”
Tak sabar Yayah mengirimkan SMS itu begitu tiba kembali di Tanah Air

Empat tahun lamanya ia menuntut ilmu di Al-Azhar University, Cairo
Tiga tahun di antaranya dilaluinya dengan menyimpan kenangan dan rindu kepada Qodari
Ya, lelaki asli Madura itu telah merebut hatinya sejak saat pertama menyambut kedatangannya di pagi buta,
di Bandara Internasional Cairo

Bersama sejumlah senior lainnya,
Qodari menjemput rombongan mahasiswa baru Al-Azhar University asal Indonesia
yang merupakan peserta program beasiswa kerja sama Indonesia-Mesir

Yayah segera saja menjadi bintang mahasiswa Al-Azhar angkatan tahun tersebut
Posturnya tinggi, dengan hidung bangir, bibir merah delima asli tanpa pulasan lipstik,
dan kulit seputih kapas

Busana apa pun yang dikenakan gadis berdarah Sunda itu
hanya membuatnya makin kelihatan cantik dan mempesona
Banyak kakak kelasnya yang berupaya menampakkan perhatiannya
Terutama mahasiswa tahun keempat yang sudah hampir lulus S-1
maupun mereka yang sedang menempuh jenjang pendidikan Pasca Sarjana


Hanya Qodari yang sama sekali tak pernah memberikan sinyal khusus kepadanya
Meskipun ia tak pernah menolak jika Yayah memerlukan bantuannya
Terkadang Yayah ingin bertanya kepada kakak kelasnya,
apakah Qodari sudah mempunyai calon istri
Namun ia merasa malu sendiri
Baru datang ke Mesir kok udah bicara cinta?


Setahun kemudian, Qodari lulus S-1
Ia akan pulang ke Indonesia sebentar,
lalu melanjutkan pendidikan S-2 di Pakistan

Yayah dan sejumlah teman mengantarnya ke bandara
Ada yang terasa hilang di jiwanya saat sosok lelaki yang selama ini kerap mengisi relung batinnya itu menghilang dari pandangan
sesaat setelah melewati imigrasi

Negeri Mesir yang indah kini terasa begitu hampa
Ketika mobil yang ditumpanginya perlahan meninggalkan bandara,
matanya menatap jauh ke landasan,
ke deretan burung-burung besi yang dengan angkuhnya bertengger di sana

Kalau saja ia punya sayap,
ingin rasanya ia terbang dan hinggap di pesawat yang akan mengantar Qodari pulang ke Indonesia


Betapa kejamnya Kak Qodari
Ia pergi tanpa pernah memberikan tanda apa pun kepadanya
Apakah ia begitu keras hatinya,
sehingga tak mampu menangkap sinyal perasaan yang dikirimkan oleh seorang gadis
meski itu hanya berupa wajah memerah
dan sikap canggung manakala tanpa sengaja berpapasan di perpustakaan kampus, Masjid Al-Azhar,
dan Wisma Nusantara yang merupakan pusat aktivitas mahasiswa Indonesia di Mesir
Padahal, lulusan terbaik Al-Azhar University dengan predikat Mumtaz itu dikenal selalu ramah dan simpatik kepada siapa pun


Diam-diam ia pun menyesali dirinya
Kenapa ia tak berterus terang saja,
atau setidaknya mengirimkan sinyal yang lebih jelas,
misalnya berupa SMS yang berisi sindiran tentang cinta
Atau, mengapa ia tidak menitipkan salam lewat salah seorang kakak kelasnya yang sama-sama aktif di PPMI bersama Qodari?


”Yayah, kamu sakit?”
tanya Aisyah, melihat wajah Yayah yang agak pucat


Buru-buru Yayah menggeleng
”Ah, tidak. Hanya kurang tidur saja,”
kilahnya


Sesaat sebelum pesawat Singapore Airlines yang akan membawanya dari Cairo ke Jakarta bersiap-siap untuk lepas landas,
Qodari mengirimkan SMS:

”Bila kamu mau menjadi istriku, aku akan menunggumu...’


‘ Membaca SMS tersebut Yayah rasanya ingin berteriak dan melompat dari mobil
Namun ia berusaha menahan perasaannya sewajar mungkin


”Welcome home. Jadi, kapan aku boleh datang melamarmu? Wss.”
Balasan dari Qodari selalu pendek dan to the point


Namun itu sudah lebih dari cukup

”Aku akan bicara dulu dengan Abah
Nanti aku kabari Kakak”


Butuh waktu sebulan, baru KH. Syamsuri, ulama terpandang di Bekasi, mengizinkan Qodari datang melamar putri kesayangannya

”Saya tunggu Jumat pagi, pukul enam,”
kata KH. Syamsuri kepada Qodari, lewat telepon


Dua tahun di Pakistan, Qodari kembali ke Tanah Air dengan menggondol gelar Master di bidang ekonomi syariah
Ia mengajar ekonomi syariah di salah satu universitas ternama di Jakarta

Ia rajin menulis di media massa,
khususnya mengenai ekonomi Islam
Ia pun menjadi da’i dan sudah mulai sering tampil di acara keislaman di televisi
Tepat pukul enam kurang 10 menit, ia tiba di rumah Sang Kiai

Ulama kharismatis itu sedang duduk di beranda sambil memegang tasbih dan melantunkan zikir

”Assalaamu’ alaikum.’

‘ KH Syamsuri menoleh

”Wa’alaikumsalaam. ”

Qodari segera mencium tangan Sang Kiai

”Saya Qodari.”

”Silakan duduk.”
Suaranya terdengar berwibawa
Sorot matanya tajam


”Terima kasih, Pak Kiai”
Yayah menyaksikan dari dalam rumah

Hatinya berdegup kencang melihat wajah yang selalu dirindukannya itu

”Sayang, mana tehnya?”


”Siap, Abah.”
Yayah segera mengantarkan minuman teh manis

Wajahnya terasa bersemu merah ketika Qodari menatapnya
Tanpa sengaja ia menunduk

”Duduk di sini, sayang,”
kata KH. Syamsuri


Dengan kikuk, Yayah duduk di samping ayahnya,
berhadapan dengan Qodari

”Silakan jelaskan, apa tujuan kamu datang ke rumah saya,”
suara KH. Syamsuri terdengar sangat tegas


”Terima kasih, Pak Kiai
Saya berniat melamar Yayah untuk menjadi istri saya”


KH. Syamsuri tidak langsung menjawab
Ia menatap pemuda di hadapannya,
seperti ingin mencari kepastian di matanya

Tanpa sadar, Qodari mengangguk
Yayah merasa serba salah
Ia tidak berani mendonggakkan wajahnya

”Tadi malam kamu shalat Tahajud?”
tanya KH. Syamsuri tiba-tiba


”Ya, Pak Kiai..”


”Tadi pagi shalat Shubuh di mana?”


”Saya shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nur,
Perumahan Permata Timur, Kalimalang.’ ‘


”Ya, sudah. Tiga bulan lagi kamu balik ke sini..”


Setelah itu, KH Syamsuri masuk ke dalam rumah
Qodari pun beranjak pulang


Yayah ingin protes kepada abahnya
Namun ia tidak berani

Abahnya sangat sayang kepadanya,
apalagi semenjak ibunya meninggal enam tahun lalu
Namun ia sangat tegas memegang prinsip



Tiga bulan kemudian, Qodari datang lagi
Namun hal yang sama berulang

Ia diminta datang lagi tiga bulan kemudian
Lagi-lagi, pertanyaannya sama,
yakni di mana dia shalat Tahajud dan shalat Shubuh


Hari ini, untuk yang kelima kalinya Qodari datang ke rumah KH. Syamsuri
Berarti kurang lebih setahun lamanya ia melamar Yayah
Pertanyaan KH. Syamsuri tetap tidak berubah


”Saya Tahajud dilanjutkan Shubuh berjamaah di Islamic Centre Bekasi,”
sahut Qodari mantap


”Selama setahun ini, berapa kali kamu tidak shalat Tahajud
dan berapa kali kamu tidak shalat fardhu berjamaah”


”Alhamdulillah, tidak satu kali pun, Pak Kiai...”


Tiba-tiba KH. Syamsuri bangkit dari duduknya,
dan memeluk Qodari


”Aku izinkan engkau menikahi putriku
Bimbinglah ia ke jalan yang diredhai Allah, dunia dan akhirat,”
bisiknya perlahan namun tegas di telinga Qodari


Yayah menarik napas lega
Wajahnya tiba-tiba tersenyum sumringah


KH. Syamsuri melirik putrinya

”Sayangku, calon suamimu berkhidmat di bidang dakwah dan pendidikan
Bagaimana ia bisa menjadi seorang dai yang istiqamah,
kalau ia tidak menegakkan shalat Tahajud dan shalat fardhu berjamaah? Ketahuilah, Tahajud merupakan pakaian para Nabi, Rasul dan orang-orang saleh. Sedangkan shalat fardhu jamaah merupakan ukuran kesungguhan iman seseorang. Kamu pasti pernah membaca hadits, cukuplah untuk mengetahui seseorang itu golongan munafik atau bukan dari shalat Shubuhnya, berjamaah atau tidak”


subhanallah ...
tak ada hal yang tak mungkin ...
tak ada hal yang sia-sia
setiap ada niat, ikhtiar dan terus berusaha
jalan kemudahan dan raihan kesuksesan akan kita dapatkan
sebagaimana qodari yang begitu tekun dan sabar
dalam penantiannya selama setahun penuh




Semoga kita tergolong orang yang selalu beristiqamah dalam shalat dan shalawatnya
begitu pun amalan-amalan baik yang lainnya


wassalam...


***
Referensi :
Jum'at, 22 Juli 2011
http://kembanganggrek2.blogspot.com/2011/07/calon-menantu.html
*

Sandal Jepit Istriku





~*~  Kisah Sandal Jepit Istriku  ~*~



Selera makanku mendadak punah
Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini

Duh... betapa tidak gemas,
dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah
Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang,
sedang perkedelnya asin nggak ketulungan


"Ummi... Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar...?
Selalu saja, kalau tak keasinan... kemanisan,
kalau tak keaseman... ya kepedesan!"

Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu


"Sabar bi..., rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah
Katanya mau kayak Rasul...? "
ucap isteriku kalem


"Iya... tapi abi kan manusia biasa
Abi belum bisa sabar seperti Rasul.
Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini...!"
Jawabku dengan nada tinggi


Mendengar ucapanku yang bernada emosi,
kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam
Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak


Sepekan sudah aku ke luar kota
Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput?
jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di rumahku
Namun apa yang terjadi...?
Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan

Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling
Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah
Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini
Piring-piring kotor berpesta pora di dapur,
dan cucian... ouw... berember-ember
Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat,
karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci

Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar
sambil mengurut dada

"Ummi...ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini...?"
ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala

"Ummi... isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian,
tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga
Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?"

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu


"Ah...wanita gampang sekali untuk menangis...,"
batinku berkata dalam hati


"Sudah diam Mi, tak boleh cengeng
Katanya mau jadi isteri shalihat...?
Isteri shalihat itu tidak cengeng,"
bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya


"Gimana nggak nangis!
Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus
Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa
Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah
Ummi kan muntah-muntah terus,
ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali"
ucap isteriku diselingi isak tangis


"Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..."
Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak


"Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?"
pinta isteriku


"Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini
Berangkat sendiri saja ya?"
ucapku


"Ya sudah, kalau abi sibuk,
Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,"
jawab isteriku


"Lho, kok bilang gitu...?"

"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing
kalau mencium bau bensin
Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat
Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,"
ucap isteriku lagi


"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,"
jawabku ringan


Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan
Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku
Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya

Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji
Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar,
ini pertanda acara belum selesai

Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu

Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal

"Wanita, memang suka yang indah-indah,
sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,"
aku membathin sendiri


Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah
Dug! Hati ini menjadi luruh


"Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?"
Tanya hatiku

Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu
Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa

Perih nian rasanya hati ini,
kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku
Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal
Sementara teman-temannnya bersepatu bagus

"Maafkan aku Maryam,"
pinta hatiku


"Krek...,"
suara pintu terdengar dibuka


Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping
Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah,
secerah warna baju dan jilbab umminya

Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu,
kembali melintas ukhti-ukhti yang lain
Namun, belum juga kutemukan Maryamku

Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu,
tapi isteriku belum juga keluar

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas

"Ini dia mujahidahku!"
pekik hatiku

Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja
Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah,
ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya

Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa
karena selama ini kurang memperhatikan isteri

Ya, aku baru sadar,
bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya
Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku,
padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu,
wahai Maryamku

Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya
Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain,
sedang isteriku tak pernah kuurusi
Padahal Rasul telah berkata:

"Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya"
Sedang aku..?
Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik
Sedang aku...?
terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya
Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!


"Maryam...!"
panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas


Tubuh itu lantas berbalik ke arahku,
pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini
Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum
Senyum bahagia

"Abi...!"
bisiknya pelan dan girang


Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini

"Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?"
sesal hatiku


Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku
Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya

"Alhamdulillah, jazakallahu...,"
ucapnya dengan suara tulus


Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu
Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku
Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan 'iffah sepertimu?
Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar
karena perhatianku...?


syukurilah kasih dan cinta yang anda miliki sekarang ini
karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti apa yang anda alami saat ini
bisa jadi, mereka mendapatkan hal-hal yang kurang baik bagi hidup mereka
pertikaian, perceraian hingga kekerasan dalam rumah tangga


Semoga kita semua tergolong kedalam keluarga yang shakinah mawaddah warahmahh..
Aamiin aamiin yaa rabbal 'alamin..


***
Referensi :
Rabu, 27 Mei 2009
http://priendah.wordpress.com/2009/05/27/sandal-jepit-istriku/
*

Sabtu, 03 Mei 2014

Itadakimasu





~*~  Itadakimasu  ~*~




"Itadakimasu...!"
Terdengar teriakan suara anak kecil

Onigiri di tangan, bersiap disuapkan ke mulut
Tiba-tiba, suara lembut sang ibu bertanya sambil menahan tangan sang anak

"Sudah baca Bismillah belum?"
Merasa kenyamanannya terganggu, si anak lalu berkata,

"Tidak mau!"


Mendengar jawaban seperti itu,
sang Ibu berkata tegas,

"Belum Bismillah, berarti onigiri ini nggak boleh dimakan"

Entah karena lapar atau memang tidak suka dengan teguran sang Ibu,
si anak mulai 'ngadat' menangis keras

Salah satu teman si ibu yang melihat kejadian tersebut berkata

"Biarin aja onigirinya dimakan,
sudah ngucapin itadakimasu, ya kan?"


Sekilas ia melirik seolah mencari persetujuan

Situasi seperti ini, pernah saya temui dalam acara pertemuan ibu-ibu
Ya betul, secara table manner Jepang,
ucapan anak tersebut sudah benar
Tapi secara manner Islam, apakah sudah cukup?

Tiba-tiba ingatan saya melayang pada sebuah buku yang berkisah tentang keutamaan basmallah
Pun teringat kepada seorang teman muslimah Jepang



***
Dalam buku tersebut diceritakan,
ada seorang isteri bersuamikan seorang munafiq
Sang isteri memiliki kebiasaan membaca basmallah setiap akan memulai sesuatu
Sang suami membenci perbuatan tersebut
Hingga suatu saat dia berjanji dalam hati,

"Saya akan membuatnya malu!"


Untuk melaksanakan niatnya,
si suami memberikan pundi uang dan berkata,

"simpanlah pundi ini"


Sang isteri menerima dan menyimpannya di sebuah tempat sambil mengucapkan basmallah
Selang beberapa hari, diam-diam, sang suami mengambil pundi tersebut
lalu membuangnya ke sumur belakang
Ia merasa senang karena akan bisa membuktikan pada isterinya
bahwa tidak ada manfaatnya mengucapkan basmallah

Kemudian sang suami berpura-pura meminta isterinya untuk mengembalikan pundinya
Sang isteri mencari pundi tersebut di tempat ia menyimpannya sambil membaca basmallah


Bersamaan dengan itu, Allah SWT memerintahkan Jibril turun ke dasar sumur
untuk mengembalikan pundi tersebut
Sang isteri yang tidak mengetahui ulah suaminya,
dengan mudah menemukan pundi yang dimaksud
Melihat hal itu sang suami terkesima dan bertaubat


***
Ada pula kisah tentang Abu Muslim al-Khulani
Ia memiliki budak perempuan yang sangat benci padanya
Setiap hari, budak perempuan tersebut selalu menuangkan racun ke dalam minuman majikannya
Hal tersebut berlangsung hingga jangka waktu yang lama
Namun tidak ada perubahan sedikitpun pada sang majikan

Hingga ia berterus terang

"Aku telah menuangkan racun sejak lama,
akan tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali pada anda... "

Mendengar itu, Abu Muslim berkata,

"Setiap kali saya akan makan, minum atau melakukan pekerjaan,
selalu membaca bismillahirrahmanirrahim..."


Sedangkan cerita lain tentang kekuatan basmallah,
saya dengar langsung dari seorang teman muslimah Jepang
Sebutlah Tomoko-san
Bertemu pertama kali dalam satu pengajian di masjid sekitar Tokyo
Seringnya bertemu ada rasa penasaran yang tersimpan di hati
Bagaimana hidayah Islam itu datang padanya?
Karena yang saya tahu, ia bersyahadah bukan karena pernikahan dengan seorang muslim
Hingga suatu saat saya beranikan diri bertanya


Alasannya singkat
Ia mengenal Islam, karena terpesona dengan basmallah
Kalimat tersebut tidak sengaja ia temukan sewaktu masih SMA,
di sebuah toko buku, di salah satu pojok bacaan tentang Islam

Di sana ia menemukan tulisan
"Bismilahiirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)"

Pertama kali membaca kalimat tersebut, dadanya bergetar
Siapa Allah itu?
Kenapa Ia memiliki rasa Maha Pengasih dan Penyayang?
Darimana asalnya kata-kata seindah ini?

Sejak saat itu, ia seolah 'jatuh cinta, ' pada basmallah
Meskipun tidak pernah tahu arti sesungguhnya bacaan tersebut,
tapi ia percaya bahwa basmallah adalah sebuah 'jampi-jampi' yang dapat menjaganya dari hal-hal yang buruk

Di atas tempat tidur, meja belajar, di setiap buku ataupun dalam omamori pasti ia tulis kalimat tersebut
Hingga suatu saat salah seorang guru yang mengetahuinya,
melarang untuk meneruskan kebiasaan tersebut.
Juga menasehati agar tidak membuka buku-buku tentang Islam

"Agama teroris, "
begitu ucapan gurunya saat itu


Tomoko-san hanya bisa tercengang kaget mendengar penjelasan tersebut
Benarkan Islam agama teroris?
Jika teroris, mengapa memiliki kata-kata yang begitu indah seperti ini?
Semakin hari, semakin penasaran ia dibuatnya

Setelah lulus SMA, keinginannya untuk mengetahui arti sesungguhnya kata basmallah semakin kuat
Ia mulai rajin membaca beberapa buku Islam dan mendatangi perkumpulan-perkumpulan muslim
Hingga akhirnya hidayah itu datang dan syahadat diikrarkan

Ia percaya, dari kalimat basmallah jalan menuju hidayah terbuka



***
Betapa hebat kekuatan basmallah
Meskipun secara sadar ataupun tidak,
kadang kita melupakannya

Terimbas oleh kata-kata lain yang dianggap lebih baik
Terutama bagi muslim yang tinggal di Jepang,
sebuah negara sekuler yang memiliki pola pemikiran 'Islami' tertib, teratur, disiplin


Pola pemikiran mereka, terkadang menggeser pola pemikiran Islam
Tidak salah jika sang ibu di cerita atas,
begitu tegas mengajarkan anaknya ucapan basmallah
Ibu tersebut pasti tidak ingin buah hati tercintanya terimbas oleh pola pemikiran Jepang
Dasar-dasar Islam harus diterapkan sedini mungkin
agar di manapun berada, seorang muslim tetap memiliki izzah Islam


Kembali ke basmallah,
jika ditelusuri, kita akan menemukan mutiara ilmu yang luar biasa pada bacaan tersebut
Menyebut bismillah di permulaan tiap pekerjaan
berarti kita sedang mengingat akan kebesaran Allah SWT
Menyadari akan keagungan-Nya
Mendatangkan perlindungan-Nya

Betapapun sulit dan berat sebuah pekerjaan,
akan terasa ringan dengan mengucapkan basmallah,
karena ia mendatangkan ketenangan lahir batin

Kekuatannya tidak bisa tergantikan,
meskipun ada kata-kata lain yang memiliki arti sedemikian bagusnya


Jadi, tidaklah salah jika saya bertanya pada anda,
"sudah baca basmallah?"

Untuk mengawali aktifitas membaca tulisan ini...

Wallahu`alambisshawab.



Catatan:
1. Itadakimasu = Diucapkan oleh orang Jepang sebelum makan, yang memiliki arti harfiah “saya terima berkah makanan ini”
2. Onigiri = Bulatan nasi khas Jepang yang dibungkus rumput laut
3. Omamori = Benda (jimat ) yang dianggap sebagai pelindung



***
Referensi :
Kamis, 02 Juni 2011
http://kurniawanirfan.blogspot.com/2011/06/basmallah.html
*

Mencium Tangan Suami




~*~  Saya Ridha Suamiku  ~*~



"Assalamu'alaikum..."
bisik Muhsin mengakhiri rakaat terakhirnya

Dibelakangnya Hasanah mengucap lafaz yang sama
Shalat jamaah usai

Seperti biasanya, sejak ia dinikahi Muhsin,
Hasanah meraih tangan suaminya, disalami dan diciumnya


"Bang..., boleh ngak saya bertanya,"
desisnya setelah keduanya selesai berzikir


"Tentu saja, masalah apa?"
tanya suaminya

"Salaman...."
ungkap hasanah

"Salaman? Ada apa? .....Bagaimana? ...Mengapa?"
tanya muhsin tak mengerti

"Kaum feminisme menganggap salaman seperti tadi adalah bukti pelecehan terhadap perempuan
Mengapa istri mesti meraih dan mencium tangan suaminya?
Mengapa tidak sebaliknya?
Bukankah itu tanda perempuan lebih rendah dari laki-laki?
Bagaimana tanggapan Abang?"


"Oh, itu toh, Apakah Abang pernah memerintahkan Adik berbuat demikian?"
tanya balik muhsin


"Tidak"
jawab sang istri


"Atau menganjurkan?"
tanya muhsin lagi


"Tidak"
jawab hasanah enteng


"Mengapa Adik melakukannya?"
desak muhsin


"Ng... mengapa ya? .......
Mungkin pertama, saya sering melihat ibu melakukan hal yang demikian kepada bapak
Kedua, naluri saya sebagai istri memerintahkan saya berbuat demikian
Ketiga, saya lihat Abang senang menerimanya
Saya bahagia jika suami merasa gembira dengan sesuatu yang saya perbuat"
ungkap hasanah berterus terang


"Adik merasa direndahkan?"
tanya muhsin


"Tidak"
jawabnya enteng


"Sebenarnya inti dari yang adik tanyakan adalah salaman
Walaupun salaman pada mulanya dilakukan penduduk Yaman,
Rasulullah SAW mentradisikannya di kalangan kaum Muslimin
Bahkan beliau menyatakan, 'Tiada dua orang Muslim bertemu lalu berjabat tangan,
melainkan diampunkan dosa keduanya sebelum berpisah.'
Salaman adalah lambang perdamaian dan kedamaian
Salaman tidak dilakukan oleh dua orang yang bermusuhan dan mendendam"


"Mencium tangan?"
tanya hasanah lagi


"Itu dilakukan para sahabat kepada Nabi SAW"
jawab muhsin


"Jadi, salaman adalah sebuah tradisi kebaikan?"
tanya hasanah makin penasaran


"Ya, Rasulullah SAW mengingatkan kaum Muslimin untuk tidak meremehkan suatu kebaikan
walau sekadar menghadapi teman dengan muka yang manis
Apalagi menghadapi suami dan istri"


"Itukah alasan abang menerima uluran tangan saya?"
tanya hasanah


"Benar. Bukan rasa kebanggaan diri sebagai suami,
saya menyambut uluran tangan itu
Tidak juga karena saya merasa lebih baik dari Adik
Abang sadar bahwa ketaqwaanlah yang menjadikan kemuliaan seseorang
Sedang taqwa dan iman itu bisa naik dan bisa turun
Suatu saat boleh jadi keadaan Abang lebih baik dari Adik
Pada saat yang lain, barangkali Abanglah yang memerlukan dorongan dan nasihat dari Adik
Apa dan bagaimanapun kondisi keimanan kita pada suatu saat,
yang jelas salaman akan membawa kepada kedamaian
Ini kebaikan yang harus dihargai"
ungkap jelas muhsin membeberkannya



"Apakah feminisme merasakan nuansa ini?"


"Wallahu a'lam
Mereka selalu berpikir dari sisi lelaki dan perempuan
Tidak dari sebuah sisi yang utuh sebagai manusia hidup saling melengkapi
Jika seorang lelaki pembantu umum diperusahaan menghidangkan minuman kepada seorang direktris,
maka hal itu adalah sebuah fenomena kerja fungsional
Bukan penghinaan kepada laki-laki
Namun jika seorang istri menghidangkan minuman kepada suaminya yang baru pulang kerja,
maka itu mereka anggap sebagai pelecehan terhadap martabat perempuan
Padahal Allah telah menentukan keluarga sebagai sebuah struktur organisasi masyarakat
dengan sebuah model kepemimpinan yang digariskan berdasarkan pertimbangan seluruh aspek kemanusiaan lelaki dan perempuan"


"Abang adalah pemimpin saya
Sayalah yang perlu meraih dan menciumi tangan Abang
Ini upaya kebaikan yang bisa saya lakukan"
lirih hasanah menerimanya


"Jazakillahi khoiron
Sesungguhnya lurusnya jalan saya sebagai suami serta ketaatan Adik sebagai istri-lah
yang menjadi tulang punggung keberhasilan kepemimpinan keluarga ini
Mengenai salaman tak ada salahnya jika suatu saat
saya yang meraih dan mencium tangan Adik
Namun kenyataannya Adiklah yang selalu mendahului saya"
ungkap muhsin


"Saya Ridho......"
ucap hasanah sembari tersenyum bahagia
bersama suami tercintanya



heheheh,,,, so romantic ;)

***
Referensi :
Rabu, 18 Maret 2009
http://dheryudi.wordpress.com/2009/03/18/cinta-untuk-suami/
*

Suara Kodok



~*~  Kodok  ~*~



Di sebuah tempat di tepian hutan,
seorang santri tengah menyiapkan tempat untuk salat malam
Ia sapu debu dan dedaunan kering yang tercecer di sekitar ruangan salat

Sesaat kemudian, sajadah pun terhampar mengarah kiblat
Hujan yang mulai reda menambah keheningan malam

“Bismillah,”
suara sang santri mengawali salat

Tapi,
“Kung…kung. ..kung!”


Suara nyaring bersahut-sahutan seperti mengoyak kekhusyukan si santri
Ia pun menoleh ke arah jendela

“Ah, suara kodok itu lagi!”
ucapnya membatin


Sudah beberapa kali ia ingin memulai salat malam,
selalu saja suara kodok meng-kungkung bersahut-sahutan
Tentu saja, itu sangat mengganggu

Masak, salat malam yang mestinya begitu khusyuk,
yang tertangkap selalu wajah kodok
Mata yang bulat, leher dan kepala menyatu dan meruncing di mulut,
serta gelembung di bagian leher yang menghasilkan nada begitu tinggi:
kung!


“Astaghfirullah! Gimana bisa khusyuk,”
ucap sang santri sambil membuka jendela kamarnya


Ia menjulurkan kepalanya keluar jendela sambil menatap tajam ke arah genangan air
persis di samping jendela
Tapi, beberapa kodok tetap saja berteriak-teriak
Mereka seperti tak peduli dengan sindiran ‘halus’ si santri


Hingga akhirnya,

“Diaaaam!!!”
Si santri berteriak keras
Lebih keras dari teriakan kodok

Benar saja
Teriakan santri membuat kodok tak lagi bersuara
Mereka diam
Mungkin, kodok-kodok tersadar kalau mereka sedang tidak disukai
Bahkan mungkin, terancam


“Nah, begitu lebih baik,”
ucap si santri sambil menutup jendela


Ia pun kembali mengkhusyukkan hatinya tertuju hanya pada salat
Kuhadapkan wajahku hanya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi
Tapi,

“Kung…kung. ..kung!”
Kodok-kodok itu kembali berteriak bersahut-sahutan

Spontan, sang santri kembali menghentikan salatnya


Kali ini, ia tidak segera beranjak ke arah jendela
Ia cuma menatap jendela yang tertutup rapat
Sang santri seperti menekuri sesuatu

Lama ....
ia tidak melakukan apa pun kecuali terpekur dalam diamnya


“Astaghfirullah, ”
suara sang santri kemudian

“Kenapa kuanggap teriakan kodok-kodok itu sebagai gangguan
Boleh jadi, mereka sedang bernyanyi mengiringi malam yang sejuk ini
Atau bahkan, kodok-kodok itu pun sedang bertasbih seperti tasbihku dalam salat malam
Astaghfirullah, ”
ucap sang santri sambil menarik nafas dalam


Dan, ia pun memulai salatnya dengan begitu khusyuk
Khusyuuuk... sekali

Begitu pun dengan kodok-kodok:
“Kung…kung. ..kung!”


***

Kadang, karena ego diri,
sudut pandang jatuh tidak pas pada posisinya
Biarkan yang lain bersuara beda
Karena boleh jadi,
itulah tasbih mereka (mnuh)

setuju??


***
Referensi :
Kamis, 18 Desember 2008
Oleh Muhammad Nuh
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/kodok.htm#.U2XVRIGSyEc
*