Sabtu, 03 Mei 2014

Hikmah Ikhlas Dan Sabar





~*~  Hikmah Ikhlas Dan Sabar  ~*~



Seorang pria berumur 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah toko berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota Bandung
Tiada yang mendampingi hidupnya di rumah selain Asih, istrinya
Sudah puluhan tahun berumah tangga, Allah SWT Sang Maha Pencipta belum berkenan memberikan mereka keturunan
Namun baik Asep dan Asih adalah model makhluk Tuhan yang menerima segala ketetapan
Mereka selalu menghiasi hidup dengan pengharapan terhadap Tuhan
Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima,
dan bersabar atas segala ujian yang diberikan


Hampir dua puluh tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita
Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan dalam hati,
untuk berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah
Dengan hasil dagang di toko yang seadanya,
sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk menggapai cita-cita itu
Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang belum pernah mereka lakukan
Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam dada seorang hamba yang rindu akan keridhaan Tuhannya

Hasil tabungan yang mereka kumpulkan tidak mereka tabung di bank
Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan agar dapat memotivasi semangat mereka untuk mencari tambahan uang sesegera mungkin
Sungguh dua puluh tahun dalam menabung,
merupakan masa yang cukup panjang untuk bersabar demi mewujudkan ketaatan kepada Tuhan
Tidak banyak, manusia modern di zaman sekarang yang mampu memiliki niat sedemikian

Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka
Uang yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000
Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang,
belum lagi biaya bimbingan haji yang harus mereka ikuti,
ditambah dengan uang jajan tambahan untuk membeli oleh-oleh
Mereka menghitung, kurang lebih mereka memerlukan dana berkisar Rp 10 juta

Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan mereka,
dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji



Suatu pagi, Asep mendengar kabar bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid As Shabirin jatuh sakit secara mendadak
dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan Sadikin
Setelah divisum oleh dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang
Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada masyarakat Indonesia

Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu
Sesampainya di sana, sahabat tersebut masih berada di ruang ICU
dan untungnya masih sadarkan diri sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep

Dari penuturannya Asep mengetahui bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri lagi,
dan tumor tersebut harus diangkat segera
Sebab bila tidak, maka tumor tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain

Asep bergidik mendengarnya
Namun ia masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa kepada Allah SWT Yang Maha
Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya
Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu
Pada hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3,
bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar

Kamar tersebut pengap dengan bau obat,
dan tidak layak disebut sebagai kamar rumah sakit
Pemandangan yang berantakan

Jemuran baju pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela
Seprai kasur yang tidak rapi
Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar
Itu semua membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap
Namun apa mau dikata, tetangganya adalah seorang yang mungkin memilik nasib sama dengan jutaan orang di Indonesia
Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah,
nggak tahu bayarnya pakai apa?


Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit
Kebetulan Asep sedang berada di sana,
seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah sakit
bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah dijalankan sebuah operasi

Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta
Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan,
maka operasi tersebut harus dilakukan
Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan,
maka tinggal berdoa saja agar terjadi keajaiban

Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit?
Semua orang pun berharap sedemikian
Namun mau bilang apa?
Keluarga sahabat Asep tersebut sudah menguras habis tabungan yang mereka miliki,
namun itu semua untuk bayar biaya rumah sakit selama ini saja tidak cukup
Apalagi untuk membiayai proses operasi?
Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT
Hari kedua belas, ketiga belas, keempat belas.... kondisi pasien semakin parah. Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan itu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.

Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya,
ia bergegas pulang menuju rumah
Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko sederhana milik mereka
Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih


“Bu..., Kang Endi tetangga kita yang sedang di rawat di rumah sakit itu
kondisinya semakin memburuk
Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya
Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya
Tiga hari lalu, kebetulan bapak sedang di sana,
seorang suster memberitahukan bahwa Kang Endi harus dioperasi segera
Keluarganya belum berani menyatakan iya,
sebab biaya operasi itu hampir Rp 50 juta....”
Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat yang panjang


Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan keluarganya,

“Kasihan mereka ya, Pak!
Kita bisa bantu apa...?”


Asep pun langsung menyambung dengan cepat,

“Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?”
Kalimat itu diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep


“Diberikan....?!!
Waduh pak..., hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah
agar cita-cita berhaji dapat diwujudkan
Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain
yang bukan saudara kita?”
Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya


“Bu...., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah
Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah SWT
Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita sendiri,
tidak perlu ke Baitullah
Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah,
kita akan ditolong juga oleh Dia Yang Maha Kuasa”
Kalimat itu meluncur dari mulut Asep
dan menohok relung hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya
Tak kuasa, Asih pun mengangguk dan setuju atas usul suaminya


Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk menjenguk
Toko mereka ditutup hari itu
Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop tebal
berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji

Keduanya tiba di rumah sakit
dan menjumpai Kang Endi dan keluarganya di sana
Usai membacakan doa untuk pasien,
keduanya datang kepada istri Kang Endi
Mereka serahkan sejumlah uang tersebut,
dan suasana menjadi haru seketika

Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah oleh Tuhan
Sementara bagi Asep dan Asih,
ini merupakan saat dimana keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan

Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga
Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke bagian administrasi rumah sakit
Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi

Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang Endi
akan dilakukan
Alhamdulillah!


Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang operasi
Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga

“Doakan ya agar operasi berjalan lancar
dan Pak Endi semoga lekas sembuh!
Kalau boleh tahu..., darimana dana operasi ini didapat?”
Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut,
karena ia tahu sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi
sebab keluarga tidak mampu menyediakan dananya


Istri Kang Endi menjawab,
“Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang membantu,
Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!”


“Memangnya, beliau usaha apa?
Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?”
Dibenak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha sukses


“Dia hanya punya usaha toko kecil di dekat rumah kami
Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu!”
Istri Kang Endi menambahkan


Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya
Hatinya mulai tergerak dan berkata,

“Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya
Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya,
tidak tergerak untuk membantu sesama”
Suara hati itu terus membekas dalam dada pak dokter


Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi
Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar
Ia memakan waktu hingga 4 jam lebih

Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat
Seluruh keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira
Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi

Pak Asep masih sering menjenguknya
Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi
dan pak Asep pun sedang berada di sana
Keduanya pun berkenalan

Pak dokter memuji keluasan hati pak Asep
Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya,
yaitu Allah SWT
Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep
secara tiba-tiba...


Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit
Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya
Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah
Nampak ada sepasang pria dan wanita turun dari mobil tersebut

Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep
Begitu mendekat, tahulah pak Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin

Gemuruh suasana hati Asep
Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak dokter bersama istrinya
Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima tamu agung seperti malam ini

Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk
Setelah disuguhi sajian ala kadarnya,
maka mereka berempat terlibat dalam pembicaraan hangat
Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung
Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri
Maka pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep dan istri

Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep
dan istri yang telah rela membantu tetangganya yang sakit
dan memerlukan dana cukup besar

Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui
kondisi pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di bangku kuliah
Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep dengan bahasa yang selalu merendah

Tiba saat pak dokter berujar,

“Pak Asep dan ibu....,
saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan
Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah SWT...
Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan ibu akan dikabul oleh Allah...”
Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan kalimat,

“Amien...!”


Pak dokter menambahkan,

“Selain itu, biar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri,
ada baiknya bila bapak dan ibu berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah...”
Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih
sehingga membuat mereka berani menanyakan,

“Maksud pak dokter....?”



“Ehm..., maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji bersama kami
dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”


Kalimat itu berakhir menunggu jawaban
Sementara jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang
hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara bersamaan

Beberapa menit keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana milik Asep dan Asih
Seolah bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para hamba-Nya yang senantiasa mencari keridhaan Tuhan

Asep dan Asih hanya mampu mengucapkan terima kasih berulang-ulang
Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan kepada Allah Yang Maha Pemurah
Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji di Baitullah
demi mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla


Sungguh, kesabaran panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan,
Akan berbuah di tangan Allah SWT menjadi balasan yang besar
dan anugerah yang tiada terkira




***
Referensi :
Dari Majlis Al Kauny (www.kaunee.com)
Selasa, 26 Juli 2001
http://kembanganggrek2.blogspot.com/2011/07/kisah-hikmah-sabar-dan-ikhlas.html
*

Malaikat Kecil



~*~  Malaikat Kecil  ~*~



Setiap hari Jum’at, selepas menunaikan shalat Jum,at
seorang Imam dan anaknya yang berusia 9 tahun selalu berjalan menyusuri jalan di kota kecil itu
dan menyebarkan artikel “Jendela Surga”
dan beberapa karya Islami yang lain

Pada satu Jum’at yang indah
ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar seperti biasa membagi-bagikan Artikel Islam itu,
hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun

Anak kecil itu mengenakan jas hujan seraya berkata
“Ayah! Saya sudah siap”


Ayahnya terkejut dan berkata
“Siap untuk apa?”


“Ayah bukankah ini saatnya kita akan keluar untuk membagi-bagikan Artikel Risalah Allah”


“Anakku! Bukankah di luar hujan begitu lebat dan udara sangat dingin”


“Ayah bukankah masih ada manusia yang akan tersesat dan masuk neraka
walaupun ketika hujan turun?”


Ayahnya menambah
“Iya tapi Ayah tidak sanggup keluar dalam cuaca begini”


Dengan merintih anaknya merayu
“Ijinkan saya pergi ayah?”


Ayahnya berasa agak ragu-ragu
namun menyerahkan artikel-artikel itu kepada anaknya

“Pergilah nak dan berhati-hatilah... Allah bersamamu!”


“Terima kasih Ayah”
Dengan wajah bersinar-sinar anak itu pergi meredah hujan
dan tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan


Anak kecil itu pun membagikan artikel-artikel tersebut
kepada siapa pun yang dijumpainya
Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah
dan memberikan artikel itu kepada penghuninya

Setelah dua jam, hanya tersisa satu artikel “Jendela Surga” ada pada tangannya
Dia merasa tanggungjawabnya tidak selesai jika masih ada artikel di tangannya

Dia berputar-putar ke sana dan ke mari
mencari siapa yang akan diberi artikel terakhirnya itu namun gagal
Akhirnya dia melihat satu rumah yang agak menjorok kedalam dari jalan itu
dan akhirnya dia melangkahkan kakinya menghampiri rumah itu

Dan begitu sampai di depan rumah itu,
lantas ditekannya bel rumah itu sekali
Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi
namun tiada jawaban

Diketuk pula pintu itu namun tidak juga ada jawaban
Seolah ada sesuatu yang memeganginya
sehingga anak itu enggan pergi,
mungkin rumah inilah harapannya agar artikel ini diserahkan

Dia mengambil keputusan menekan bel sekali lagi
Akhirnya pintu rumah itu dibuka
Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan sekitar umur 50 tahunzn

Mukanya suram dan sedih

“Nak, apa yang bisa ibu bantu?”

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang turun dari langit

“Ibu, maaf saya mengganggu,
saya hanya ingin menyampaikan kabar gembira dari ALLAH
karena sesungguhnya Allah amat sayang dan senantiasa memelihara Ibu
Saya datang ini hanya ingin menyerahkan artikel terakhir ini
dan Ibu adalah orang yang paling beruntung”


Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi

“Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu”
Dengan nada yang lembut


***


Minggu berikutnya sebelum waktu shalat Jum’at dimulai,
seperti biasa Imam naik ke atas mimbar untuk memberikan informasi
sekitar masalah dan perkembangan yang terjadi di masjid itu

Sebelum selesai dia bertanya
” Ada yang ingin bertanya sesuatu?”

Tiba-tiba ada yang bangun dengan perlahan dan berdiri
Dia adalah perempuan separuh baya

“Saya rasa tidak ada yang mengenal saya
Saya tak pernah hadir ke majlis ini
Untuk anda sekalian ketahui, bahwa saya bukanlah orang islam
Suami saya meninggal beberapa tahun yang lalu
dan meninggalkan saya seorang diri dalam dunia ini”


Air mata mulai bergenang di kelopak matanya

“Pada hari Jum’at lalu saya mengambil keputusan untuk bunuh diri
Jadi saya ambil kursi dan tali
Saya ikat ujung tali di galang atas dan ujung satu lagi saya ikatkan di leher
Ketika saya mau terjun, tiba-tiba bel rumah saya berbunyi
Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya
siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab
Kemudian ia berbunyi lagi
Kemudian saya mendengar ketukan dan bel ditekan sekali lagi”


“Saya jadi penasaran siapakah yang datang,
sehingga saya longgarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu”


“Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu
Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat”


“Ibu, maaf saya mengganggu
saya hanya ingin menyampaikan kabar gembira dari ALLAH
karena sesungguhnya Allah amat sayang dan senantiasa memelihara Ibu”

Itulah kata-kata yang paling indah yang saya dengar
Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan
Saya kemudian menutup pintu dan terus baca artikel itu

Akhirnya kursi dan tali kuletakkan kembali ditempat semula
Aku tak perlukan itu lagi
Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia,
Di belakang artikel terdapat alamat ini
dan itulah sebabnya saya di sini hari ini dan saya ingin masuk islam

"Jika tidak disebabkan malaikat kecil yang datang pada hari itu
tentunya saya sudah menjadi penghuni neraka”


Tak satu pun air mata di masjid itu yang masih kering
Ramai pula yang berteriak dan bertakbir “ALLAHUAKBAR!”

Imam lantas turun dari mimbar
dan memeluk anaknya yang berada di kaki mimbar
dan tak terasa airmatanya pun mengalir
Hari Jum’at ini adalah hari paling indah dalam hidupnya

Tiada anugerah yang amat besar dari hari ini
Yaitu anugerah yang sekarang berada di dalam pelukannya
Seorang anak laksana malaikat
Biarkanlah air mata itu menetes
Air mata itu anugerah ALLAH kepada makhlukNya yang penyayang


***
Sumber :
Minggu, 31 Juli 2011
Fadilah Blog - Kumpulan Kisah Islami
http://kembanganggrek2.blogspot.com/2011/07/malaikat-kecil.html
*

Jumat, 02 Mei 2014

Tell Her Now That You Love Her





~*~  Tell Her Now That You Love Her  ~*~



Tit.. tiit ?
"I luv u"


Setiap pagi aku menerima SMS bernada seperti itu
Atau terkadang berupa gambar yang melambangkan cinta
Bukan siapa-siapa, karena wanita yang rajin tak pernah absen mengirimiku ungkapan cinta itu tak lain adalah istriku sendiri

Kemarin kuberitahu dia bahwa tindakannya itu memalukan,
untuk sebuah keluarga yang sudah memiliki dua anak,
tidak usahlah ?

cinta-cinta-an?
seperti halnya orang pacaran atau pengantin baru
Tapi ia tidak menggubrisnya
bahkan ia semakin sering dengan menambah rutinitas itu
pada setiap sorenya


Enam setengah bulan lalu,
malah dia melakukan satu seremoni yang bagiku hanyalah buang-buang uang saja
dan tak selayaknya ia melakukan itu

Malam itu sesampainya aku di rumah,
kudapati rumahku hanya diterangi oleh lampu yang remang-remang
Rupanya istriku mengganti lampu ruangan makan kami,
agar terkesan lebih romantis, katanya

Sementara dua anakku sudah terlelap menikmati mimpinya,
kulihat beberapa batang lilin menyala diatas meja makan
yang diatasnya sudah tersedia hidangan penuh selera
yang menjadi kesukaanku

Dengan gaun malamnya, ia terlihat begitu cantik
Aku baru ingat, hari itu adalah ulang tahun ketiga pernikahan kami
Bahkan satu bulan sebelumnya, ia mengajakku keluar bersama anak-anak

Kami makan di sebuah restoran yang cukup bagus
Ia yang membayar semuanya, katanya
Pikirku, dari mana ia mendapatkan uang,
'toh ia tak bekerja

Akhirnya kuketahui itu uang yang ia sisihkan dari jatah bulanan yang kuberikan
hanya saja bagiku, sekedar merayakan ulang tahunku tidak perlu repot-repot
dan mahal seperti ini
Cukup dengan membeli makanan di pasar dan dimakan bersama-sama, selesai,
yang penting kita bersyukur kepada-Nya
bahwa kita masih diberikan kekuatan
dan kesabaran dalam mengemban amanah-Nya
sampai usia kita bertambah hari itu

Yang kuheran, malam sebelumnya tepat pukul 00.01 WIB
ketika detik pertama pada tanggal kelahiranku,
sebuah kecupan hangat mendarat di keningku

Kubuka perlahan mataku dan kudapatkan senyumannya yang manis
Malam itu ia menghadiahiku sebuah jam tangan yang didalam bungkus kadonya terdapat sebuah kartu ucapan bertuliskan:

"Take My Heart In Your Arm"

Oh ya, sekedar memberitahu,
handphone yang kupakai sekarang ini adalah handphone hadiah darinya
pada saat ulang tahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu itu

Aku sempat menolaknya, karena handphone-ku sebelumnya juga masih bagus
Dengan sedikit senyum ia menghulurkan sebungkus kado cantik itu
Didalamnya, kutemukan kembali sebuah kartu bertuliskan sebuah pesan
(harap) singkat:
"Keep In Touch, Please ??"

Lucunya, aku lupa bertanya,
bagaimana cara ia mendapatkan barang semahal itu
Ah mungkin karena aku sedang terkagum-kagum saja kepada istriku itu,
yang membuat aku lupa

SMS terakhir yang aku terima pagi ini,
masih sama isinya
Namun entah kenapa hari ini aku menitikkan air mata
Kuperhatikan kembali rangkaian kata-kata dalam pesan itu,
padahal setiap hari aku membacanya

I-L-U-V-U ?
kuperhatikan satu persatu huruf yang terangkai singkat itu,
namun titik air dari mataku semakin bertambah
Aku jadi teringat dengan handphone hadiah darinya,
teringat dengan makan malam istimewa nan romantis
saat ulang tahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu,
jam tangan hadiah darinya saat ulang tahunku, semua perhatian, cinta dan kasih sayangnya kepadaku
Ooh ?


Tiba-tiba mataku menatap lingkaran merah di satu tanggal pada kalender mejaku
Disitu tertulis, ?
Ultah istriku?
Ya Allah ... aku hampir saja melupakannya kalau besok adalah hari ulang tahunnya
Sementara hari sudah sore,
aku bingung harus menyiapkan hadiah apa untuknya,
padahal uangku sudah habis,
tak mungkinlah jika aku meminta kepadanya untuk membeli hadiah untuknya,
jelas nggak surprise

Akhirnya, aku nekat menelepon beberapa teman dan karibku,
atau siapapun yang bisa kupinjam uangnya
Aku ingin memberinya sesuatu
Namun, apa daya, tak satupun dari mereka bisa meminjamkannya
karena memang selain mendadak, bukan tanggal yang tepat bagi siapapun untuk meminjam uang di tanggal tua


Aku lemas, hari sudah terlalu malam bagiku untuk mengetuk pintu orang kesekian untuk kupinjami uangnya
Lagipula toko-toko mulai tutup,
kalaupun aku mendapatkan uangnya,
sudah terlambat untuk membeli sesuatu

Langkahku gontai, aku malu jika pulang tak membawa apa-apa
Aku menyesal, rupanya kesibukan dan sifat egoisku yang selama ini menutupi semua perhatian dan cinta yang diberikannya,
hingga tak sekalipun aku membalasnya

Sambil berjalan, lalu terbetik sebuah ide kecil dibenakku ?
Aku pulang, kudapati rumahku sudah sepi,
istri dan kedua anakku sudah terlelap

Aku tak ingin membangunkan mereka
Belum juga mataku merapat karena masih membayangkan betapa menyesalnya aku yang telah mengabaikan perhatian dan kasih sayangnya selama ini,
bahkan tak sepatah kata terima kasih pun aku ucapkan untuk semua cintanya itu


Satu jam kemudian, istriku terbangun untuk menunaikan sholat malamnya
Biasanya ia membangunkan aku (atau sebaliknya jika aku bangun terlebih dulu)
untuk sholat bersama

Namun ia tak segera, karena kuyakin matanya langsung menatap setangkai bunga mawar merah
...yang kuletakkan disamping bantal tidurnya

Sementara aku masih berpura-pura terlelap,
namun mataku sesekali menangkap senyuman di bibirnya
ketika ia membaca kertas kecil yang kuikatkan ditangkai bunga itu,

"Maafkan abang dik, yang telah melupakan perhatian dan cinta adik
Bunga ini memang tidak akan mampu membalas semua yang telah adik berikan "with luv"





***

Saudaraku, berapapun usia pernikahan anda,
tetaplah perbaharui cinta berdua dengan senantiasa memberikan perhatian dan kasih sayang
Sehingga kelak, cita-cita berdua sampai di surga-Nya
bukanlah sekedar impian

Dengan cinta dan perhatian yang tulus kepada pasangan anda,
segala cobaan, ujian seberat apapun akan mampu diatasi bersama,
selamanya, tanpa harus berakhir dengan tangis dan penyesalan

Sehingga juga dengan itu, waktu yang anda punya tak habis terpakai
untuk menyelesaikan semua persoalan,
dan anda bisa lebih memfokuskan harap dan doa

semoga Allah tersenyum juga mencurahkan cinta-Nya
karena kasih dan sayang setiap hamba kepada pasangannya


***
Referensi :
Senin, 07 Juni 2010 @ 08:05
oleh netjesman
dari kaskus
*

Kisah Keajaiban Sedekah Dan Shalat





~*~  Kisah Keajaiban Sedekah Dan Shalat .... ~*~



Satu hari saya jalan melintas di satu daerah
Tertidur di dalam mobil
Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi

Saya berpesan ke supir saya,
“Nanti di depan ke kiri ya”


“Masih banyak, Pak Ustad,”
jawab sopir saya


Saya paham. Si sopir mengira, saya ingin membeli bensin
Padahal bukan


“Saya mau pipis,”
jelas saya pada sopir


Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti

“Pak Ustadz!”
panggilnya seraya melambaikan tangan dari kejauhan dan mendekati saya


Saya menghentikan langkah
Menunggu si sekuriti

“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz
Biasanya kan hanya melihat di TV saja,”
ujarnya sembari tersenyum sumringah


Saya juga tersenyum
Insya Allah, saya tidak merasa gede rasa

“Saya ke toilet dulu ya”
kata saya meminta pengertian sang sekuriti


“Nanti saya pengen ngobrol. Boleh Ustadz?”
laki-laki itu berusaha menahan langkah saya


“Saya buru-buru, lho. Tentang apaan sih?”
jawab saya sembari menatapnya tajam


“Saya bosen jadi satpam Pak Ustad”


Sejurus kemudian saya sadar...
Ini pasti Allah pasti yang memberhentikan langkah saya

Lagi enak-enak tidur di perjalanan,
saya terbangun karena ingin pipis,
lantas sampai di sebuah pom bensin,
hingga akhirnya bertemu sekuriti ini

Berarti barangkali saya harus berbicara dengannya
Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini
Bukan jadwal setelah ini
Demikian saya membatin

“Ok, nanti setelah dari toilet ya,”
jawab saya pada sang satpam


“Jadi, gimana? Bosen jadi satpam?
Emangnya nggak gajian?”
tanya saya membuka percakapan


Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini
Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget
Ada minimart-nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan

“Gaji mah ada, Ustadz
Tapi masak gini-gini aja nasib saya?”


“Gini-gini aja itu karena ibadah Bapak juga gini-gini aja
Disetel bagaimanapun, agak susah merubahnya”


“Wah, ustadz langsung nembak aja nih..”


Saya meminta maaf kepada sekuriti ini
umpama ada perkataan saya yang salah
Tapi umumnya begitulah manusia

Rezeki mau banyak, tapi kepada Allah tidak mau mendekat
Rezeki mau bertambah, tapi ibadah tidak mau ditambah
Dari dulu tetap begitu-begitu saja


“Sudah shalat ashar?”


“Barusan, Pak Ustadz. Soalnya kita 'kan tugas
Tugas juga 'kan ibadah, iya nggak?
Ya saya pikir sama saja”


“Oh, jadi nggak apa-apa telat, ya?
Karena menurut Bapak, kerja Bapak adalah juga ibadah?”


Sekuriti itu tersenyum meringis
Mungkin ia jujur mengatakan demikian
Mungkin juga tidak

Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap pekerjaannya sebagai ibadah
Namun bisa juga tidak
Anggapan pekerjaan sebagai ibadah cuma sebatas ucapan saja
Lagi pula jika menganggap pekerjaan-pekerjaan kita adalah ibadah,
maka apa yang kita lakukan di dunia ini semuanya juga ibadah
kalau kita niatkan sebagai ibadah
Tapi, hal itu ada syaratnya
Apa syaratnya?

Yakni kalau ibadah wajib dijadikan prioritas nomor satu
Kalau ibadah wajibnya dijadikan prioritas nomor tujuh belas,
tentu adalah bohong belaka jika menganggap pekerjaan sebagai ibadah

Lantas, apakah kita tidak boleh meniatkan pekerjaan sebagai ibadah?
Tentu saja boleh! Bahkan bagus sekali, bukan hanya boleh
Tapi kemudian kita umpamakan demikian

Suatu saat, kita menerima tamu,
kemudian Allah datang
Artinya kita menerima tamu, tepat ketika waktu shalat tiba
Kemudian kita abaikan shalat.. Kita abaikan Allah

Nah, apakah demikian masih pantas pekerjaan kita disebut sebagai ibadah?
Apalagi kalau kemudian hasil pekerjaan dan usaha,
hanya sedikit yang diberikan kepada Allah daripada untuk kebutuhan-kebutuhan kita sendiri

Tampaknya, kita perlu memikirkan kembali ungkapan “pekerjaan sebagai ibadah”

Saya kembali bertanya pada si sekuriti,

“Kata ‘barusan’ itu maksudnya jam setengah limaan, ya?
Saya 'kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini”


“Ya, kurang lebih, deh,”
ujar si sekuriti seraya tersenyum kecut


Saya masih ingat, dulu saya dikoreksi oleh seorang faqih,
seorang alim, bahwa shalat itu harus tepat waktu
Di awal waktu

Bagaimana mungkin kita ingin diperhatikan oleh Sang Maha Memberi Rezeki
jika shalat kita tidak tepat waktu?!
Aqimish shalaata lidzikrii
"Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku"

Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat
Menunda-nunda...
Itu 'kan jadi sama saja dengan menunda-nunda dalam mengingat Allah
Maka lalu saya ingatkan sekuriti itu
Entahlah, saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya

“Gini ya, Pak
Kalau Bapak shalat asar jam setengah lima,
maka Bapak jauh sekali tertinggal untuk mengejar dunia
Bapak sudah telat sejam setengah jika waktu ashar sekarang dimulai pada jam tiga kurang sedikit
Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus,
dan kemudian dikalikan sejak akil baligh,
sejak diwajibkan shalat, kita telat terus,
maka berapa jarak ketertinggalan kita? 5 x 1,5 jam,
lalu dikalikan sekian hari dalam sebulan,
dan sekian bulan dalam setahun,
dan dikalikan lagi sekian tahun kita telat
Itu baru soal telat saja
Belum kalau ketinggalan atau kelupaan
Lebih bahaya lagi kalau benar-benar sengaja tidak shalat!
Wah, makin jauh saja mestinya kita dari senang!”


Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya katakan
Dari raut mukanya, tampaknya ia paham
Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara, ya. He…he..he

Belagu ya saya?
Masa perkataan cetek begini harus ditanyakan pada lawan bicara,
paham apa tidak

Saya juga menjelaskan pada si sekuriti
Jika dia merupakan alumni SMU yang selama ini telat shalatnya
maka kawan-kawan seangkatannya mungkin sudah banyak yang maju
Sementara dia sendiri seperti diam di tempat

Misalkan, seseorang membuka suatu usaha
Lalu ada orang lain lagi yang juga membuka usaha
Sementara yang satu usahanya maju,
dan yang lainnya sempit usahanya

Nah, bisa jadi hal itu karena ibadah yang satu itu bagus,
sedangkan yang lain tidak
Dan saya mengingatkan kepada Anda sekalian untuk tidak menggunakan mata telanjang
guna mengukur kenapa si Fulan tidak shalat,
dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah?

Sedang si Fulan yang satu rajin shalat dan banyak kebaikannya,
namun hidupnya susah

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks
Tapi bisa diurai satu-satu dengan bahasa-bahasa kita,
bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta
Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian


“Terus, mau berubah?”
tanya saya kembali kepada si sekuriti


“Mau, Pak Ustad!
Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalau tidak serius?”


“Ya udah, deketin Allah, deh. Ngebut ke Allah.”


“Ngebut gimana?”


“Satu: benahi shalatnya
Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya
Pantangan telat! Kejar rezeki dengan kita yang datang menjemput Allah
Jangan sampai keduluan Allah”
Si sekuriti mengaku mengerti,
maksudnya adalah bahwa sebelum azan ia sudah siap di atas sajadah
Kita ini menginginkan rezeki dari Allah,
tapi tidak berusaha mengenali Dia Yang Membagi-bagikan rezeki
Contohnya, para pekerja di tanah air ini
Mereka bekerja supaya memperoleh gaji
Dan gaji itu merupakan rezeki
Tapi giliran Allah memanggilnya,
malah perilakunya seperti tidak menghargai Allah
Padahal hakikatnya, Allah yang menjadikan seseorang bisa bekerja
Ini 'kan aneh
Saat menemui, penampilan rapi, wangi, dan betul-betul dipersiapkan sedemikian rupa
Namun, giliran mereka menemui Allah, pakaian mereka sembarangan
Amit-amit, Tidak ada persiapan
Bahkan, tidak segan-segan mereka menunjukkan wajah dan fisik yang lelah
Hal itu berarti tidak mengenal Allah


“Kedua,” saya teruskan, “keluarkan sedekahnya!”
Saya ingat betul. Sekuriti itu tertawa


“Pak Ustadz, bagaimana saya bisa sedekah,
hari ini saja belanjaan di rumah sudah habis?
Saya terpaksa berhutang lagi di warung
Saya sudah mulai mengambil barang dulu, bayar belakangan”


“Ah, Bapak saja yang barangkali kebanyakan beban
Memang gajinya berapa?”


“Satu koma tujuh, Pak Ustadz”


“Wuah, itu mah besar sekali
Maaf, ya, untuk ukuran sekuriti,
yang orang sering sebut orang kecil, gaji segitu sudah besar..”


“Yah, kan saya harus bayar cicilan motor, kontrakan, susu anak
Bayar ini, bayar itu
Emang nggak cukup, Pak ustadz.”


“Itu gaji bisa gede, emang sudah lama kerjanya?”


“Kerjanya sih sudah tujuh tahun
Tapi gaji gede bukan karena sudah lama kerjanya
Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, Ustadz”


“Kok bisa?”


“Ya, sebab saya tinggal di mess
Saya nggak tahu gimana boss menghitung sampai ketemu angka 1,7jt”


“Terus, kenapa masih kurang?”


“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak”


“Secara matematis, lepaskan saja tanggungan yang tidak perlu, seperti motor
Ngapain juga ente kredit motor? Kan nggak perlu?”


“Pengen kayak orang-orang, Pak Ustadz.”


“Ya susah kalau begitu, mah
Ingin meniru orang lain hanya pada soal motornya saja
Bukan ilmu dan ibadahnya
Bukan cara dan kebaikannya. Repot!”


Sekuriti ini nyengir
Memang kalau motor ini dilepas, dia bisa menghemat 900 ribu
Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu
Tidak jelas bagaimana ia menutupi kebutuhannya yang lain
Biaya kontrakan saja, termasuk air dan listrik, sudah Rp. 450 ribu
Kalau melihat keuangan model begini, tentu saja defisit terus


“Ya sudah. Sudah terlanjur, ya
Oke, shalatnya gimana? Mau diubah?”


“Mau, Ustadz. Saya mau benahi shalat saya”


“Bareng sama istri, ya
Ajak dia. Jangan sendirian
Ibarat sandal, lakukan berdua
Tambah baik kalau anak-anak juga diajak
Ajak semua anggota keluarga untuk membenahi shalat!”


“Siap, Ustad!”


“Tapi sedekahnya tetap harus dilaksanakan, lho!”


“Yah, Ustadz. Kan saya sudah bilang,
tidak ada yang bisa disedekahkan!”


“Sedekahkan saja motornya
Kalau tidak motor, barang apa saja yang lain!”


“Jangan, Ustadz. Saya masih sayang motor ini
Susah lagi belinya. Tabungan juga nggak ada
Emas juga nggak punya”


Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia
Tapi saya terus berpikir keras untuk mencari solusinya

Kalau dia hanya memperbaiki shalatnya saja,
tapi sedekah tidak dilaksanakan,
maka keajaiban akan lama muncul
Demikianlah, menurut ilmu yang saya peroleh

Namun tentu saja, lain cerita ceritanya jika Allah berkehendak lain

“Pak, kalau saya tunjukkan bahwa sebenarnya Bapak bisa sedekah,
bahkan besar jumlah sedekah yang bisa dikeluarkan,
Bapak mau percaya, nggak?”
ujar saya kemudian


Si sekuriti mengangguk

“Oke, kalau sudah saya tunjukkan, mau melaksanakannya?”


Sekuriti ini mengangguk lagi

“Selama saya bisa, saya akan laksanakan,”
katanya mantap


“Gajian bulan depan masih ada nggak?”


“Masih. Kan belum bisa diambil?”


“Bisa! Dicoba dulu!”


“Nanti bulan depan saya hidup gimana?”


“Yakin nggak sama Allah?”


“Yakin.”


“Nah, kalau yakin, titik.. Jangan koma
Jangan pakai kalau”


Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon guna bersedekah sebisa mungkin
Tapi saya jelaskan kepada sekuriti agar diusahakan menyedekahkan semua gajinya
Hal itu agar jumlah sedekah betul-betul signifikan
Dengan demikian, perubahan yang akan terjadi juga betul-betul dirasakan
Dia berjanji akan membenahi mati-matian shalatnya
Termasuk dia akan laksanakan semaksimal mungkin shalat taubat, hajat, dhuha, dan tahajjud
Dia juga berjanji untuk rajin mengisi waktu senggang dengan membaca Alquran

Tampaknya, si sekuriti itu sudah lama tidak berlari kepada Allah
Shalat Jum’at saja menunggu qomat
Wah, susah juga...
Keadaan seperti justru ia anggap sebagai sesuatu yang wajar
Hal itu karena tugasnya sebagai sekuriti
Toh, tugas yang dilakukannya ia anggap sebagai ibadah
Itulah barangkali yang telah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi seorang sekuriti sekian tahun

Padahal dia Sarjana Akuntansi!
Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi
Pantas saja dia merasa bosan dengan posisinya sebagai sekuriti
Tidak sesuai dengan keinginan hatinya
Tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya

Tapi demikianlah hidup
Apa boleh buta, eh, apa boleh buat
Mungkin yang penting bagi dia saat itu adalah memperoleh pekerjaan dan mendapat gaji

Bagi saya sendiri, tidak masalah memiliki banyak keinginan
Asal keinginan itu sesuatu yang diperbolehkan
dan masih dalam batas-batas wajar
Juga tidak masalah memimpikan sesuatu yang belum tercapai
Asal hal itu dibarengkan dengan peningkatan ibadah kita

Sebagaimana realitas sosial sekarang ini,
meskipun harga barang-barang melejit naik,
kita tidak perlu khawatir
Ancam saja diri kita sendiri agar mau meningkatkan ibadah-ibadah kita
Jangan malah berleha-leha karena akan membuat hidup kita justru tergilas dengan tingginya harga barang-barang


Sekuriti ini kemudian menemui atasannya guna meminjam uang
Ketika ditanya oleh sang atasan untuk apa,
dia hanya nyengir tidak menjawab
Tapi ketika ditanya jumlah yang mau dipinjam,
ia pun menjawab,

“Semuanya! 1,7 juta
Utuh sejumlah gaji yang biasa diterima”


“Tidak bisa!”
kata komandannya


“Tolonglah, Pak,”
jawab sekuriti memelas


“Saya kan belum pernah kasbon
Tidak pernah berani. Baru kali ini saya berani”


Sang komandan terus mengejar alasan si sekuriti berhutang
Akhirnya, ia pun menceritakan pertemuannya dengan saya


Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk bertemu langsung dengan owner SPBU ini
Menurut sang komandan, permohonan bon lewat jalur formal susah dikabulkan
Kalau pun dikabulkan, paling hanya sejumlah 30% dari total jumlah gaji
Itu juga belum tentu bisa dicairkan dalam waktu cepat

Di luar dugaan, sang owner justru menyetujui permohonan bon si sekuriti
Persetujuan itu juga karena dibantu sang komandan yang ikut merayu

“Katanya, buat sedekah, Pak,”
jelas sang komandan kepada sang big boss


Subhaanallaah!
Semua orang di pom bensin itu mengetahui perubahan yang terjadi
Kisah sang sekuriti yang bertemu dengan saya
serta kisah perjuangannya bersama sang komandan untuk meminjam uang,
menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan the end story-nya

Termasuk dinanti oleh sang pemilik pom bensin

“Kita coba lihat, berubah nggak tuh nasib si sekuriti”
begitulah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa ia ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah


Hari demi hari, sekuriti ini diperhatikan oleh kawan-kawannya
Ia kini rajin sekali shalat
Selalu tepat waktu
Ibadah-ibadah sunah juga lumayan istiqamah
Mengetahui hal itu, sang bos pun senang,
sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini
Apalagi kenyataannya si sekuriti tidak mengurangi kedisiplinan kerja
Raut mukanya justru selalu tampak cerah
Keceriaan sang sekuriti itu karena, menurutnya,
ia sedang menunggu janji Allah
Dan dia yakin, janji Allah pasti datang

Demikian ia jelaskan kepada teman-temannya yang meledek dirinya
Mereka mau ikut rajin shalat dan sedekah jika ia memang berhasil dengan “eksperimen gila”-nya itu

Saya tertawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini
Bukan apa-apa, saya justru suka tantangan yang demikian
Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam
Dan barangkali Allah akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti
Hal itu agar sang sekuriti benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum memiliki iman
Saya pun tersenyum dengan keadaan ini,
sebab Allah pasti tidak akan mempermalukan si sekuriti


Suatu hari sang bos berkata,

“Kita lihat saja dia
Kalau dia tidak mengambil kasbon, berarti dia berhasil
Tapi kalau dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal
Sebab buat apa menyedekahkan gaji bulan depan,
kalau kemudian ia mengambil kasbon lagi
Percuma!”


Tapi subhaanallah! Sampai akhir bulan berikutnya,
si sekuriti ini tidak mengambil kasbon
Berhasilkah? Tunggu dulu
Kawan-kawannya ini tidak melihat motor besarnya lagi
Jadi, ia tidak mengambil kasbon karena ia masih memiliki uang dari hasil jual motor,
bukan dari keajaiban mendekati Allah

Hingga akhirnya ketika sang sekuriti bertemu dengan si boss,
ia pun ditanya tentang sesuatu yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya sendiri


“Benar nih, nggak kasbon?
Udah akhir bulan, lho
Yang lain bakal menerima gaji
Sedang gaji Bapak 'kan sudah diambil bulan kemarin”
kata si boss serius


Kepada saya, sekuriti ini mengatakan bahwa ia memang sudah siap-siap mau kasbon kalau sampai pertengahan bulan ini tidak ada tanda-tanda keberhasilan
Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar membikin orang tercengang!
Apa pasal?
Hal itu karena ternyata betul-betul terjadi keajaiban setelah ia membenahi shalatnya
dan memberikan sedekah dengan jumlah besar yang belum pernah ia lakukan seumur hidup! \
Mempertaruhkan hidupnya dengan menyedekahkan semua gaji bulan depannya
Semuanya tanpa tersisa!

Keajaiban itu berawal ketika di kampung halaman si sekuriti terjadi transaksi tanah,
yang melibatkan dirinya
Padahal dirinya tidak terlibat secara fisik
Ia sekedar menjadi mediator lewat SMS ke pembeli dan penjual

Dari transaksi inilah, Allah mengganti sedekah yang ia keluarkan dari gajinya sebesar Rp 1,7 juta menjadi 10 kali lipat
Bahkan lebih!
Allah memberinya karunia berupa komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar Rp 17,5 juta!
Dan hal itu terjadi begitu cepat
Kejadian itu terjadi masih dalam bulan yang sama,
belum berganti bulan

Sadar betapa besarnya anugerah Allah,
akhirnya dia malu sendiri kepada Allah
Motor yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual!
Uangnya digunakan untuk sedekah
Uang hasil penjualan motor dia gunakan untuk membiayai keberangkatan haji ibunya,
satu-satunya orang tuanya yang masih hidup
Subhaanallaah!


Sayang sekali, uang hasil penjualan motor itu tetap tidak cukup untuk menutupi ongkos haji
Karena dijual cepat, harga motornya tidak sampai Rp 13 juta
Akhirnya, ia tambahkan sendiri sebesar Rp 12 juta yang berasal dari uangnya sendiri yang ia peroleh dari komisi penjualan tanah
Dengan demikian, sang ibu memiliki uang sebesar Rp 25 juta
Jumlah itu sudah cukup untuk daftar naik haji
Tambahan ongkos yang lain berasal dari simpanan ibunya sendiri


Masih menurut cerita si sekuriti,
ia merasa aman dengan uang Rp 5 juta,
sisa dari komisi transaksi tanah itu
Dan dia merasa tidak memerlukan motor lagi

Dengan uang ini, ia aman dan tidak perlu kasbon
Tak ayal, sang bos pun berdecak kagum
Dia lalu kumpulkan semua karyawannya dan menyuruh si sekuriti ini bercerita
tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini

Apakah cukup sampai di situ perubahan yang terjadi pada diri si sekuriti?
Tidak!
Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi
Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain,
dan dijadikan staf keuangan di sana

Masya Allah, masya Allah, masya Allah!
Berubah, berubah, berubah!
Saudara-saudaraku sekalian


Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja
Tapi soal tauhid
soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya
Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia
hingga mampu berbuat sesuatu.
Tauhid yang menggerakkan!

Begitu saya mengistilahkan
Sekuriti ini mengenal Allah
Dan dia baru sedikit mengenal Allah
Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini diterapkan olehnya dan diyakini
Akhirnya? Jadi!
Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya
Subhaanallaah, masya Allah....

Dan lihat juga cerita ini,
seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang,
siapa kemudian yang mengikuti cerita ini?

Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini
Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja
Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia


Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar

--Ust. Yusuf Mansur--

-----
Allah Ta’ala berfirman,
“Perumpamaan ( nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,
pada tiap-tiap bulir seratus biji
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki
Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”
(Qs. Al Baqarah (2) : 261)


Allah Ta’ala berfirman,
” Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa
dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga)
maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah “
(Qs. Al Lail (92) : 5-8)


Rasulullah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah
pada waktu hijrah dari Makkah :

“Wahai segenap manusia!
Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat,
dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya”


Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap awal pagi, semasa terbit matahari,
ada dua malaikat menyeru kepada manusia dibumi
Yang satu menyeru, “Ya Tuhan, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kepada Allah “
Yang satu lagi menyeru “musnahkanlah orang yang menahan hartanya”





***
Referensi :
Jum'at, 08 Mei 2009
http://keajaibansedekah.wordpress.com/2009/05/08/yusuf-mansur-vs-sekuriti-pom-bensin/
Ustadz Yusuf mansyur
*

Pendidik Pertama Dan Utama Dalam Keluarga



~*~  Pendidik Pertama Dan Utama Dalam Keluarga  ~*~





Ibu... Ibu... Ibu...

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mentafakuri orang-orang yang sukses yang tlah mengukir sejarah,
ternyata siapapun dia, tetap dilahirkan oleh seorang Ibu

Subhanallah...

Saudaraku yang disayangi Allah...
Siapakah Ibu Itu?
Lalu, apa perannya?


Kata Ibu, mengutif  Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 364)
adalah perempuan yang telah menikah dengan cara yang sah,
melahirkan anak ataupun tidak

Al-Qur’an menyebut ibu dengan umm yang memiliki derivasi makna dengan kata imam dan ummat
Baik kata imam atau ummat, kepada makna yang sama,
yakni “yang dituju” atau “yang diteladani”


Pengertian literal tadi, secara filosofis menunjukkan adanya suatu pandangan
bahwa ibu dapat memfungsikan dirinya sebagai pemimpin yang memiliki salah satu ciri
untuk mampu DIGUGU, DITIRU dan DITELADANI,
minimal oleh anak-anak mereka
Karena itu, untuk menjadi seorang ibu,
memang harus tumbuh dari wanita yang mampu diteladani
minimal oleh anak-anak mereka di dalam rumah tangga


Kedekatan anak pada ibu, jauh lebih kuat dan memberi daya dorong yang lebih tinggi
dibandingkan dengan daya dorong suami atau ayah anak-anak
Kondisi terjadi lebih disebabkan karena
jalinan biologis dan psikologis ibu, jauh lebih lama
dibandingkan dengan jalinan biologis dan psikologis anak terhadap ayah mereka


Subhanallah...


Presisi ini dapat diilustrasi akan peran yang pernah dimainkan ibunya Alfa Edison,
masih ingat dengan sosoknya saudaraku?

Ya, dialah penemu listrik di Eropa abad moderen
Ia adalah anak yang dinyatakan drop out di sekolah
karena dianggap ber-IQ rendah,
namun ternyata menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam bidang teknologi,
sampai abad moderen

Kehebatan Alfa Edision tadi,
disinyalir berkat usaha ibunya yang terus menerus,
tanpa henti dan lelah, meyakinkan anaknya
bahwa dirinya memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak-anak lain
Hasilnya ternyata mencengangkan


Subhanallah...
Subhanallah...
Subhanallah...


Hal yang sama berlaku dalam cerita Imam Syafi’i

Tokoh ini dibesarkan oleh seorang ibu yang “tuli”, “buta” dan “lumpuh”
Di tengah kehidupan seorang ibu yang “tuli”, “buta” dan “lumpuh” itu
Syafi’i tumbuh dan berkembang menjadi seorang imam besar yang pandai menghafal al-Qur’an,
pada umur tujuh tahun faham Hadits, Fiqih, Shufis
dan tentu ahli Kalam atau Teologi yang cukup disegani dikalangan masyarakat muslim sampai hari ini


Dalam semboyan Islam dikatakan

“Wanita itu tiang negara
Apabila warga wanita dalam negara itu baik,
maka baiklah negara itu
Dan apabila warga wanita dalam negara itu rusak,
maka rusaklah negara”


Kaum Ibu (wanita) sebagai seorang manusia dapat melakukan aktivitas dan belajar,
sama seperti halnya kaum pria,
karena Allah telah menganugrahkan potensi dan kemampuan yang cukup
kepada kaum wanita untuk memikul tanggung jawab sebagaimana halnya kepada kaum pria

Wanita sama seperti pria dibebani ketetapan hukum syara,
dan wanita pun sama seperti pria dalam memperoleh pahala dan siksa

Hal terpenting dari seorang ibu selain merawat anaknya,
ia juga SEORANG PENDIDIK PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK-ANAKNYA


Saudaraku yang disayangi Allah...

Ibu memiliki tugas mendidik anak-anaknya sejak anak masih berada dalam rahimnya
Rahim ibu berfungsi untuk memberikan gizi pada janin
sekaligus transmisi pendidikan

Pendidikan yang diterima anak di dalam rahim ibu bersifat terpusat (top down),
karena anak secara pasive menerima pembelajaran dari perbuatan orang tua terutama ibunya

Di samping itu rahiem yang juga berfungsi sebagai transmisi pendidikan,
maka kondisi kejiwaan ibu hamil; labil maupun stabil,
serta sikap atau tingkah laku kesehariannya berpengaruh pada janin yang dikandungnya


***

Oleh karena itu, maka seorang ibu sedang hamil,
hendaknya pula menghindarkan diri dari emosi atapun fanatisme yang berlebihan,
serta kesedihan yang berlarut-larut

Semua kondisi kejiwaan ibu akan melekat pada janin
dan meninggalkan pengaruh kepada anaknya

Seorang ibu wajib mengetahui berbagai hal,
termasuk soal pengaruh makanan haram terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia

Sejak dalam rahim, atau anak dalam janin,
jika disuapi dengan makanan yang haram,
ia dapat berdampak pada kehidupan anak setelah lahir

Nah, itulah sekilas tentang begitu pentingnya peran seorang ibu dalam mendidik buah hatinya
Subhanallah...

Wallaahu a’lam bish shawaab



Ya Allah,
Berilah kesabaran kepada para Ibu dalam mendidik anak-anaknya,
serta berilah keistiqamahan semangat dalam menghadapi cobaan dan godaan yang diberikan oleh anak-anaknya,
supaya mampu menggapai kesuksesan dunia dan akhirat secara berbondong-bondong

Ya Allah,
Jadikanlah amal shalihah apa yang dilakukan oleh para Ibu
yang sayang terhadap anak-anaknya dalam mendidik agama dengan baik,
juga jadikanlah amal shalih bagi para Ayah yang senantiasa mendorong istrinya
dan mengawasi seluruh komponen keluarganya dalam kebaikan yang Engkau ridhai

Aamiin Ya Allah Ya Rabbal ‘aalamiin




By: [SALSABILA FOR-ISLAM]

Semoga Bermanfaat Saudara-saudariku...

Baarakallaahu Fiikum...

Mengambil faedah dan barakah dalam rangka:
Cinta * Bersemi dalam Ridha-Mu [Muhasabah Cinta]



***
Referensi :
Kamis, 24 Maret 2011
http://antonwardoyo.blogspot.com/2011/03/ibu-siapakah-dia-luar-biasa-pendidik.html
*

Aku Dan Maisya





~*~  Aku Dan Maisya  ~*~


(KISAH NYATA)

Assalamu'alaikum warohamatullahi wabarokatuh

Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah
Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini
Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur
Gadis yang kuidamkan sejak kecil,
bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain
Padahal dia sudah ngaji

Sedih juga rasanya
Ada juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik,
dan sudah kujalani “prosedurnya”
Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah

Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria
Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku
Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya
Langsung saja kukatakan pada teman dekatku
bahwa aku sangat-sangat setuju


“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,”
kata temanku


Tapi kujawab enteng,
“Tapi ane (aku) langsung sreg kok”


“Ya sudah, terserah ente aja lah,”
sahut temanku sambil geleng-geleng kepala


Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam
sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya
Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang
Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal
antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu)

Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir...


Lewat kurang lebih 2-3 minggu
mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya
Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting
yaitu mengungkapkan niatku untuk menikahinya,
apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya (guru/pembimbing)


“Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?”
tanyaku


“Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya”
jawabnya


Aku baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya
disuruh menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya
Padahal, di antara birrul walidain adalah
menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi tentang pernikahan,
bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun
Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan)


***

Aku catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan
Pada hari Ahad kuajak 2 teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR
Dengan sedikit kesasar akhirnya sampailah kami di rumahnya
Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan ...
“Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka,
kami pun pulang dengan agak kecewa,
sebab siang itu adalah jam 2,
saat matahari sangat terik menyengat

Kutelepon Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya
Maisya membolehkanku hanya dengan menelepon MR
Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung

Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama
Dari masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku,
ustadz yang sering kuikuti kajiannya,
sampai buku-buku yang sering kubaca
Juga, pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya

Dengan polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanyaan itu
Yang membuatku heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai,
nada MR agak beda dari awal pembicaraan
Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering kujadikan rujukan dalam memahami agama
Aku belum tahu kenapa bisa begitu

Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku
Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal

“Aduh, kenapa tidak bicarakan dulu denganku
Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya MR,
maka ente otomais akan ditolak
Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz, buku-buku dan para syeikh Timur Tengah,
bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer)”


“Lho kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah,
atau apa namanya tadi, liqa’?
Ya memang aku tak ikut
Ane juga nggak punya MR dong
Oo.., jadi begitu ya?”
aku hanya melongo


***

Beberapa hari kemudian,
aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur

“Assalamu’alaikum, akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya,
mungkin Allah belum menakdirkan kita berjodoh
Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita,
saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama ini,
Assalamu’alaikum,”
cetusnya


“Kletuk, nuut nuut nuut”
terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus


Aku masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut
Kutaruh gagang telpon dengan lunglai

“Astagfirullah,”
kusebut kata-kata itu berulang kali

Apa yang harus kuperbuat?
Tak tahu harus bagaimana
Tapi sohib dekatku yang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk


“Ditolak ya? Udah deh,
'kan masih banyak harem (wanita) lain,
ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak”


Aku jawab saja dengan ketus,
“Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam penolakan itu,
ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”


“Udah deh jangan terlalu PD,”
sahut sohibku


Ternyata bener juga kata temanku itu,
jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku ditolak oleh Maisya
Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam,
padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan
adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab
karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin,
yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih


Hatiku sudah terlanjur cocok sama Maisya
Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau Maisya jadi pendamping hidupku
Tapi aku ditolak. “Apa yang harus kuperbuat?”
kataku dalam hati

Menyerah kemudian mencari yang lain?
Baru begitu saja kok nyerah

Tanpa sepengetahuan sohibku,
kutulis surat ke orangtua Maisya
Yang kutahu bahwa dia hanya punya ibu
Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun

Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu
Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya,
maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi

Dengan penuh harap kukirim surat tersebut,
tak disangka ternyata surat itu sampai di tangan Maisya dan dibacanya

Alamak, kenapa bisa begitu?
Untuk beberapa hari tidak ada respon
Gundah gulana pun datang
Apa yang harus kulakukan?

Kuputuskan untuk mengirim surat ke Maisya langsung
Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa setengah resmi tapi santai
Aku memang sedikit ndableg
Di penghujung surat tersebut kukatakan,

“Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh,
saya punya satu permintaan...
tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya
yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya”


Kupikir Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar
Aku berpikir seandainya ada orang membaca suratku,
pasti akan mengatakan “rayuan gombal!”
Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam

Surat kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima
dan dibaca oleh ibu Maisya dan kakak perempuannya

Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan keluarganya
Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya,
Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli)

Kak Dahlia menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya
guna klarifikasi surat tersebut


***

Seminggu kemudian kupeniuhi undangan itu
Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab”,
dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,

“Baiklah, kakak sudah dengar cerita kamu,
saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya?
Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”


Hatiku berbunga-bunga mendengarnya,
Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya

Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak Dahlia

“Begini aja deh, kamu sekarang pulang dulu
Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu Maisya
Pokoknya kamu banyak doa aja
Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu”


Aku izin pulang dengan sedikit riang gembira
Mulutku hanya bergumam penuh doa,
semoga Allah mengabulkan cita-citaku


Kira-kira 2 minggu setelah itu
kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya
Dia bilang aku harus bertemu langsung dengan Maisya
Hatiku pun berdebar
Dengan sedikit gagap aku iyakan undangan itu

“Besok deh Kak, insyaAllah saya datang”
jawabku


Aku duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya
Sedikit basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan sebelumya
Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku

Dadaku berdegub
Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya
Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya?

Jangan-jangan tidak sama
Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya
Tunggu saja deh...

Tidak lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya
Aku tetap menjaga pandanganku
Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama kalinya

Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri pandang,
karena memang dianjurkan oleh Rasulullah
Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali

Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya,
subhanallah! Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja


Tak sadar keringat dingin mengalir dari pelipis
Ada apa gerangan?
Kenapa rasanya agak grogi?
Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini

Obrolan pun mulai bergulir
Dari mulai pertanyaan-pertanyaan agama secara umum
sampai diskusi tentang kerumahtanggaan

Kurang lebih satu jam aku di rumah itu
Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama


Di bus kota aku senyum-senyum sendirian
Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC
padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok
Tapi semua itu tidak kurasakan

Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil
Dan ternyata benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya,
kali ini menanyakan kelanjutan proses kami kemarin
Kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku di waktu yang kutentukan
Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan tawaranku


Kutanya ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika meng-khitbah seorang wanita
Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya
Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya
Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada Maisya,
tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia akan terima

Duh…, senangnya...


Sebelumnya aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya
Bahkan, ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib
(Orang Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah)
Padahal setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki
yang kemudian punya anak
Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib
Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki
Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib


Satu hal yang perlu diketahui,
bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib atau Habib,
wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab
Bahkan, sebagian mengharamkannya
Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab
Bahkan, sebagian mengharamkannya

Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi nanti
Bisa jadi ditolak atau tidak
Dan yang ada di depan mataku adalah ditolak

Aku datang sekeluarga dengan naik Taksi
Aku tidak punya mobil
Dari mana aku punya mobil?
sedangkan aku baru bekerja setahun?

Sambutan hambar kudapatkan ketika memasuki ruang tamu
Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar dari ibu Maisya
Anehnya, di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya

Kemudian acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan
Namun yang kutunggu hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri
Saat itu pun tiba
Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku

Diakhir acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya
Ada salah satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti
Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya
Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya

Aku tetap tak mau menyebutkan
Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku

Setelah acara selesai, aku pamit
Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan
Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya
dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini

Ternyata ujian belum selesai juga
Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya
Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang lain

Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga
Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan juga perhiasan


Apa yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya
jika dibanding dengan yang dibawa pelamar kedua ini
Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan?
Maisya tak mau menemuinya
Maisya tak menerima lamarannya

Bahkan setelah rombongan itu pulang
dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran untuk Maisya,
apa yang Maisya lakukan?

“Kembalikan semua barang bawaannya
dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan,
kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini”


Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku
Mendengar semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku
Padahal aku adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis
Saat itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan,
sekali pun harus menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku


***

Beberapa hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya
Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan
Malah dia nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya

Dengan nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku

“Saya kasih tau ya!
Kamu 'kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil
Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) 'kan sudah punya kerjaan,
rumah besar, mobil ada dua
Jadi, kamu batalkan lamaran
Biar Maisya menerima lamaran Jajuli
Kamu 'kan bisa cari yang lain”


Hhh! Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu
Tapi aku langsung kontrol diri
Aku jawab dengan suara pelan dan sopan
bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas
tanpa ada paksaan dari siapa pun

Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya,
aku tak akan pernah membatalkan lamaranku
Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting,
padahal jawabanku belum selesai


Suatu hari di tengah kesibukanku,
datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun ke kantorku
Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku,

“Kamu yang melamar Maisya?
Kamu tuh ga tahu diri ya?
Belum jadi menantu saja sudah belagu,”
cerocosnya


“Mohon tenang dulu, apa masalahnya?
Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,”
sambutku dengan sabar


“Kamu tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari,
saya sudah muter-muter mencari alamatmu
tapi ternyata tidak ketemu-ketemu,
apa kamu mau mempermainkan kami?”
tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku


“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?”
tanyaku


“Tidak!”
jawabnya ketus


“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,”
sahutku


“Aaah udah deh jangan banyak alasan,”
jawabnya


“Eh aku kasih tau ya,
kau tuh jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya.
kecamnya


Dengan sedikit senyum kujawab ancamannnya,
“Kalo Nabi punya keturunan seperti ente,
pasti Nabi akan sangat marah pada ente
Wanita kok pakai celana jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab
Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti ente”


Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan
Kejadian itu membuat hatiku semakin was-was dan khawatir
Kalau demikian dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya,
maka bisa jadi mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”

Akankah mereka menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”?
Wallahu a’lam....


Yang jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu,
maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya
Semuanya bisa terjadi

Sabarkanlah diriku ya Allah.



Dari telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku
Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku
Padahal keluarganya memberi pilihan:
batal nikah atau putus hubungan keluarga


***

Undangan mulai kucetak
Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak untuk pernikahan ini
Aku tidak punya saudara di kota tempat Maisya tinggal
Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya

Hari H semakin dekat
Persiapan juga semakin matang
Aku terharu lagi ketika ditanya,

“Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini?
Tapi jangan merasa berat dan terpaksa,
kalau tidak ada ya nggak apa-apa.”


Aku hanya bisa tergagap menjawabnya
Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku
tapi perlu proses untuk cair,
jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit
Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini

Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun
Subhanallah


Panitia pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan
Aku bertekad bahwa pernikahan ini harus seislami mungkin,
di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita
walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam
Aku tak peduli

Keluarga Maisya pun tak tinggal diam
Di antara mereka ada yang memintaku agar busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya
Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa
Jelas kutolak mentah-mentah

Ada juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus dan yang sejenisnya
Tapi itu pun aku tolak
Ternyata sampai mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka


Tibalah saatnya kegelisahanku yang paling dalam
Aku sedang berpikir bagaimana jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku
Aku punya seorang saudara marinir
Aku telepon dia dan kuwajibkan datang
Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap
Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan
Karena pengamanan Allah lebih kuat,
bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan
Itu hanya ikhtiar saja


Malam hari “H” dia datang
dan siap menghadiri acara nikah besoknya


Aku minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang
Teman senior kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther,
bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria


Dengan sedikit gemetar dan mata sedikit basah,
aku lalui proses ijab kabul yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya


Tangisku meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya
Tangis makin dahsyat saat aku menghadap ibuku
Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang mendampingiku


Subhanallah, aku sudah menjadi seorang suami
Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi oleh Maisya
yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”

Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya
sampai dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu
Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan hati,
sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya



Subhanallah .... kisah cinta islami
Penuh dengan segala hadangan, rintangan,
namun selama kita tetap berikhtiar
jalan kemudahan akan selalu kita dapatkan


Lalu ???
Bagaimana dengan kisah cinta anda, sahabatku?
bagi yang ingin berbagi kembali....
silakan ... berbagi kasih cinta pengalaman hidup






***
Referensi :
Suami Maisya
Diambil dari Buku “Semudah Cinta Di Awal Senja”
Terbitan Nikah Media Samara
*

Keranda Air Line



~*~  Keranda Air Line  ~*~



HIDUP MANUSIA IBARAT SEBUAH PENERBANGAN
Dimana maklumat tentangnya tidak terdapat dalam sembarang brosur penerbangan,
tetapi melalui AL QUR'AN dan AL HADITS


Dan penerbangan ini tidak menggunakan Garuda atau Air Asia,
tapi Al-Jenazah KERANDA AIR LINE

Bekal kita bukan lagi koper seberat 20 kg,
tapi AMAL PERBUATAN yang beratnya tergantung dari Rahman dan Rahimnya ALLAH

Baju yang kita kenakan, bukan Pierre Cardin, Dunhill atau yang setaraf dengannya
tetapi KAIN KAFAN PUTIH

Pewanginya bukan Channel, Bulgary atau Paco Rabane,
tetapi AIR MAWAR DAN CENDANA

Pasport kita tentunya bukan Indonesia, Malaysia, British atau yang lainnya,
tetapi AL-ISLAM

Visa kita juga bukan lagi sekedar 6 bulan,
tetapi VISA ABADI

Para pelayan dalam perjalanan, bukan lagi Pramugari Jelita,
tetapi "IZRAIL" dkk.

Tujuan mendaratnya bukan Cengkareng, husain, Changi Airport atau Jeddah International,
tapi TANAH PERKUBURAN

Ruang menunggunya bukan lagi ruang Ber-AC dengan karpet merah,
tapi BILIK 6 KAKI TIPE 21 YANG GELAP GULITA

Pegawai Imigrasinya bukan petugas yang ramah,
tapi MUNKAR DAN NAKIR
Mereka hanya memeriksa kita bakalan ke arah mana SURGA atau NERAKA


Jangan risaukan Delays
Penerbangan ini senantiasa BERANGKAT TEPAT WAKTU


Tiap tiap umat mempunyai ajal
maka apabila datang waktu ajalnya
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun
dan tidak juga dapat memajukannya
(QS 7:34)


Jangan fikirkan tentang hiburan dalam penerbangan,
karena kita bakal SEPI kehilangan selera bersuka-ria

Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah kita,
karena KITA SATU SATUNYA PENUMPANG DALAM PENERBANGAN KERANDA AIR LINE


Panggilan penerbangan ini datang tanpa SINYAL
Dan NAMA KITA SUDAH TERCATAT DALAM PENERBANGAN INI

Sesunguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
kematian itu pasti akan menumui kamu
(QS. 62;8).


APAKAH KITA TELAH SIAP BERANGKAT???

SUDAH CUKUPKAH BEKAL KITA...???

Semoga bermanfaat.




***
Referensi :
dari Kang Deddy:
Terima kasih untuk Mba Anne Rufaidah dan Susi Amatul Qudus II
Sabtu, 30 Juli 2011
http://kembanganggrek2.blogspot.com/2011/07/manusia-ibarat-sebuah-penerbangan.html
*