Minggu, 27 Oktober 2013
Nama-nama Bayi Islami
~*~ Nama-nama Bayi Islami ~*~
Salah satu hal yang sangat membahagiakan sepasang suami-istri adalah ketika keturunan yang mereka harapkan terlahir
Bayi terlahir dari kandungan sang istri dengan sang suami mendampinginya
Maka salah satu hal penting terkait dengan hal tersebut adalah memberi nama bayi tersebut
Sebagai sepasang suami-istri yang muslim, sangat dianjurkan untuk memberi bayi tersebut dengan nama-nama Islami
Di artikel ini, akan kami sampaikan deretan nama-nama bayi Islami untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan
Namun sebelum itu, akan kami sampaikan terlebih dahulu adab memberi nama bayi sesuai Sunnah Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:
1. Jangan memberi nama bayi dengan nama “Abu Qasim”
Abu Qasim adalah julukan yang hanya boleh digunakan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam
Setidaknya ada tiga hadist yang menjelaskan hal tersebut:
Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiallahuanhu ia berkata:
Seseorang menyapa temannya di Baqi: Hai Abul Qasim! Rasulullah saw. berpaling kepada si penyapa. Orang itu segera berkata: Ya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam, aku tidak bermaksud memanggilmu. Yang kupanggil adalah si Fulan. Rasulullah saw. bersabda:Kalian boleh memberi nama dengan namaku, tapi jangan memberikan julukan dengan julukanku
(Shahih Muslim No.3974)
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiallahuanhu ia berkata:
Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah saw. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam. Setelah sampai di hadapan Rasulullah saw. ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian
(Shahih Muslim No.3976)
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiallahuanhu ia berkata:
Abul Qasim, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda: Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku
(Shahih Muslim No.3981)
2. Boleh memberi nama bayi pada hari pertama dia lahir ataupun tujuh hari setelah kelahiran bayi tersebut
Diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda,
“Malam ini anakku terlahir, maka aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim ‘alaihissalam,”
(HR. Muslim 2315).
Boleh juga memberi nama bayi pada hari ketujuh pasca kelahiran sebagaimana hadist Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam, “Setiap anak tergadai (tertahan) dengan akikahnya, disembelihkan haiwan akikah pada hari ketujuh, diberi nama pada hari tersebut, dan dicukur rambutnya."
(HR. Abu Daud no: 2837, At-Tirmizi no: 1522, An-Nasai no: 4220 dan Ibnu Majah no: 3165).
3. Hanya beri bayi-bayi kita dengan nama yang baik
Adalah suatu anjuran yang sangat ditekankan untuk memberi nama bayi dengan nama yang baik. Hal ini karena Rasulullah pernah mengganti nama Zainab yang semula bernama Barrah
(HR. Muslim 3990)
Nah, terkait dengan memberi nama yang baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan, Islam memberi beberapa petunjuk tentang hal tersebut.
1. Menggunakan kata Abdu diikuti Asmaul Husna
Misal Abdullah, Abdurrahman
Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll
Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.
"Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah (hamba Allah) dan Abdurrahman (hampa kepada Yang Maha Pemurah)"
(HR. Muslim no: 2132, At-Tirmizi no:2833, An-Nasai no: 3565, Abu Daud no: 4949 dan Ibnu Majah no: 3728).
Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah
Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam
Penganut agama syiah biasanya menamakan diri mereka dan bayi mereka dengan Abdul Husein, atau Abdul Hasan, atau Abdul Ali
Jadi mereka menisbatkan penghambaan bukan kepada Allah, namun kepada Ahlul Bait dan imam-imam syiah
Naudzubillahi min dzalik
2. Memberi nama bayi dengan nama-nama Nabi.
Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi
Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:
“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf”
(HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-)
Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.
Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam
3. Memberi nama bayi laki-laki atau bayi perempuan dengan nama orang shalih dari kalangan umat Islam
Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda,
“Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih”
(HR. Muslim).
Maka tidak heran bahwa sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu‘anhu memberikan nama kepada sembilan anaknya dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.
Maka berikut kami kutipkan daftar nama para Sahabat (untuk nama Islami bayi laki-laki) dan Sahabiyah (untuk nama Islami bayi perempuan)
Semoga berguna untuk kita semua umat Islam dan semoga anak-anak kita kelak akan meniru perilaku mulia para sahabat tersebut
Khadijah binti Khuwailid
Abu Bakar ash-Shiddiq
Umar bin Khattab
Utsman bin Affan
Ali bin Abi Thalib
Zaid bin Haritsah
Abbas bin Abdul Muthalib
Hamzah bin Abdul Muthalib
Ja'far bin Abi Thalib1. Khalid bin Walid
Amru bin Ash1. Abu Sufyan
Mu'awiyah bin Abu Sufyan
Ikrimah bin Abu JahalAbdullah ibn Umar
Abdurrahman bin Auf
Abu Bakar
Abu Dzar Al-Ghiffari
Abu Hurairah
Abu Ubaidah bin al-Jarrah
Ali bin Abi Talib
al-Qamah
Amru bin Ash
Bilal bin Rabah
Hakim bin Hazm
Hamzah bin Abdul Muthalib
Khalid bin Walid
Mua'dz bin Jabal
Mua'wiyah bin Abu Sufyan
Mus'ab bin Umair
Sa'ad bin Abi Waqqas
Sa'id bin Zayd bin `Amr
Thalhah bin Ubaidillah
Umar bin Khattab
Usamah bin Zaid bin Haritsah
Usman bin Affan
Uwais Al-Qarny
Wahsyi
Zubair bin AwwamAbbad bin Bishir
(****)
Abbas bin Abdul-Muththalib
Abdullah bin Abbas
Abdullah bin Abdul-Asad
Abdullah bin Hudhafah as-Sahmi
Abdullah bin Ja'far
Abdullah bin Mas'ud
Abdullah bin Rawahah
Abdullah bin Salam
Abdullah bin Ubay
Abdullah bin Umar
Abdullah bin Ummi-Maktum
Abdullah bin Zubair
Abdurrahman bin Abi Bakar
Abdurrahman bin Auf
Abu Ayyub al-Ansari
Abu Bakar
Abu Dujana
Abu Dzar Al-Ghifari
Abu Fuhayra
Abu Hudhaifah bin al-Mughirah
Abu Hurairah
Abu Jahm
Abu Lubaba bin Abd al-Mundzir
Abu Musa al-Ashari
Abu Qatadah
Abu Sufyan
Abu Sufyan bin Harits
Abu Thalib
Abu Ubaidah bin al-Jarrah
Abu al-Aas bin al-Rabiah
Abu al-Dardaa
Abu Hudhayfah bin Utbah
Abu Sa'id al-Khudri
Akib bin Usaid
Al-Ala'a Al-Hadrami
Al-Baraa bin Malik al-Ansari
Al-Nahdiah
Ali bin Abi Thalib
Aminah binti Wahab
Amru bin al-Jamuh
Ammar bin Yasir
Amru bin Ash
An-Numan bin Muqarrin
Anas bin Malik
Ashaab
Aqil bin Abu Thalib
Bashir bin Sa'ad
Bilal bin Rabah
Bilal bin al-Harits
Fadl bin Abbas
Fatimah binti Asad
Fatimah binti Hizam
Fayruz al-Daylami
Habibah binti Ubaidillah
Hakim bin Hazm
Halimah As-Sa'diyah
Hamzah bin Abdul-Muththalib
Haritsah binti al-Muammil
Hatib bin Abi Baitah
Hisyam bin Al-Aas
Hudhayfah bin al-Yaman
Hujr bin Adi
Ikrimah bin Abu Jahal
Ja'far bin Abi Thalib
Julaybib
Khabbab bin al-Aratt
Khadijah binti Khuwailid
Khalid bin Sa`id
Khalid bin Walid
Khubaib bin Adi
Khunais bin Hudhaifa
Kumail bin Ziyad
Khuzaimah bin Tsabit
Layla binti al-Minhal
Lubabah binti al-Harith
Lubaynah
Malik bin Dinar
Malik al-Dar
Malik bin Ashter
Malik bin Nuwayrah
Miqdad bin Aswad
Mua'dz bin Jabal
Muhammad bin Abu Bakar
Muawiyah bin Abu Sufyan
Muhammad bin Maslamah
Mughira bin Shu'ba
Mus'ab bin Umair
Nawfal bin Khuwaylid
Qatadah
Rab'ah bin Umayah
Rabi'ah bin Harits
Sa'ad bin ar-Rabi'
Sa'ad bin Abi Waqqas
Sa'ad bin Muadz
Saffiyah binti Abdul-Muththalib
Sa’id bin Al-Ash
Said bin Amir al-Jumahi
Said bin Zayd
Salim Mawla Abu Hudhayfah
Salman al-Farisi
Suhayb Ar-Rummi
Sumayyah binti Khayyat
Syaibah bin 'Utsman
Thalhah bin Ubaidillah
Thalib bin Abu Thalib
Ubaidah bin Harits
Ubay bin Kaab
Umamah binti Zainab
Umar bin Khattab
Ummi Kultsum binti Ali
Ummi Kultsum binti Jarwila Khuzima
Ummi Syarik
Ummi Ubays
`Uqbah bin Amir
Urwah bin Mas'ud
Usamah bin Zaid
Usayd bin Hudhayr
Utbah bin Ghazwan
Utsman bin Affan
Utsman bin Hunaif
Uwais al-Qarny
Wahab bin Abd Manaf
Wahsyi
Waraqah bin Naufal
Zaid bin Arqam
Zaid bin Haritsah
Zaid bin Tsabit
Zainab binti Ali
Zubair
***
Referensi :
Oeh : Irfan Nugroho
http://www.mukminun.com/2013/10/Nama-nama-Bayi-Islami-untuk-Laki-laki-atau-Perempuan.html?m=1
*
Haji Mabrur
~*~ Haji Mabrur ~*~
Khutbah Jum'at tentang Haji mabrur : Arti, Tanda dan Do'a
إِنَّ الحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أنْفُسِنَا وَسَيِّئاَتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِياً مُرْشِدًا، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأدَّى الأمَانَةَ، وَنَصَحَ الأمَّة، وَجَاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتىَّ أتَاهُ اليَقِيْن. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسلم وَبَارك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدَ، وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهمْ بِإحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّينِ،
أمَّا بَعْدُ، فَياَ عِباَدَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قال تعالى يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢)
Ma’asyiral Muslimiin, jamaah shalat jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala...
Alhamdulilahirabbil’alamiin...
Segala pujian hanya tertuju kepada Allah, Rabb semesta alam
Tak ada yang lain yang lebih patut untuk kita puja-puji atas semua nikmat yang telah kita peroleh selain puja-puji kepada Allah.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam
Oleh karena perantara beliaulah Allah memberikan kita semua nikmat yang paling besar,
yakni nikmat Islam dan iman, yang ada kalanya kita masih jarang mensyukurinya
Doa kita hendaknya juga tak henti-hentinya mengalir kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabiin, ulama, mujahidin, dan seluruh umat Islam yang ada di seluruh penjuru dunia
Aamiin yaa rabbal aalamiin....
Jama’ah shalat jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah...
Musim haji telah usai
Para tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala satu per satu mulai kembali ke tanah air mereka masing-masing
Alhamdulilah, beberapa dari mereka pun kini telah hadir bersama kita
Maka kami ucapkan, Ahlan wa sahlan... Barra amalu...
Semoga Allah menjadikan amalan Anda mabrur.
Jamaah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah...
Tidak semua yang mampu menjalankan haji otomatis langsung dijamin masuk surga dan terhindar dari siksa api neraka
Kenapa?
Karena hanya haji yang mabrur sajalah yang mendapat jaminan masuk surga berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam,
“Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga,”
(Muttafaq Alaihi).
Maka apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur?
Apa saja tanda-tanda haji yang mabrur?
Dan adakah doa agar diberi haji yang mabrur?
Inilah yang akan kami nasihatkan kepada diri saya sendiri dan juga kepada seluruh jamaah shalat jumat yang semoga dirahmati Allah
Ma’asyiral Muslimiin, Rahimatulullah...
Kata “mabrur” berasal dari kata “Birr” yang berarti ketaatan
Pengarang kitab Riyadhus Shalihin, Al Imam An-Nawawi Rahimahullah menyatakan bahwa “haji yang mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa.”
Definisi haji yang mabrur tersebut juga didukung oleh Imam Al-Qurthubi yang menyatakan bahwa “haji yang mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat.”
Lantas, dapatkah seseorang yang diberi kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci kemudian terjerumus dalam dosa?
Hal tersebut bisa saja
Sungguh, betapa banyak di antara umat ini yang menunaikan ibadah haji dengan harta haram, diperoleh dari hasil riba, diperoleh dari harta korupsi
Betapa banyak pula umat ini yang berhaji hanya karena riya, agar dipanggil Pak Haji, Bu Hajah, dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda,
“Jika seorang keluar untuk melakukan haji dengan harta haram, kemudian ia mengendarai tunggangan dan mengatakan,”Labbaik, Allahumma labbaik!” Maka, yang berada di langit menyeru,” Tidak labbaik! Dan kau tidak memperoleh kebahagiaan! Bekalmu haram, kendaraanmu haram dan hajimu mendatangan dosa dan tidak diterima"
(HR. At Thabrani).
Jamaah shalat Jumat rahimatulullah...
Itulah arti haji mabrur
Haji yang dilakukan dengan niat yang benar, tidak riya atau pamer, dan didanai dengan harta yang halal, bukan dari riba atau hasil korupsi, serta dilakukan dengan cara yang benar
Maka, mari kita coba tengok, seperti apa tanda-tanda haji mabrur itu?
Jamaah shalat Jumat rahimatulullah...
Imam An-Nawawi menyatakan bahwa tanda haji mabrur adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari menunaikan haji
Maka, mari kita tinjau dalam hal apa minimal seorang haji harus melakukan perubahan dalam dirinya agar menjadi lebih baik dan agar menjadi haji yang mabrur
Pertama, seorang haji yang mabrur adalah haji yang tidak lagi melakukan maksiat atau dosa seperti yang biasa dilakukan sebelum berhaji
Pendapat inilah yang diusung oleh Imam Al-Qurthubi yang mengatakan,
“Haji mabrur adalah haji yang tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.”
Jika sebelum berhaji ia sering melakukan suatu maksiat, setelah berhaji ia tidak lagi melakukan maksiat yang sama
Jika sebelum berhaji ia senantiasa melakukan dosa, setelah berhaji ia tiada lagi mengulangi dosa yang sama
Maka ketahuilah, haji yang seperti itulah haji yang mabrur yang dijamin dengan surga
Kedua, seorang haji yang mabrur adalah haji yang melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal keyakinan, atau iman, atau aqidah, atau tauhid
Seseorang yang melakukan ibadah haji pasti melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah
Ia pasti juga melakukan shalat dengan menghadap langsung ke arah Ka’bah
Kita umat Islam tidak menyembah Ka’bah
Ka’bah adalah representasi dari Tuhan yang satu, siapa?
Allah! Ilah yang satu, siapa?
Allah! Dan Rabb yang satu... Allah Subhanahu Wa Ta'ala!
Maka, setelah melakukan perjalanan spiritual seperti itu hendaknya seorang haji semakin meningkat ketauhidannya kepada Allah, meningkat imannya, dan semakin mantap akidahnya
Bukanlah haji yang mabrur jika setelah berhaji ia masih melakukan syirik
Bukanlah haji yang mabrur jika setelah berhaji ia lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah
Dan bukanlah haji yang mabrur jika setelah berhaji ia masih menganggap ada syariat yang lebih utama selain syariat Islam
Jamaah shalat Jumat Rahimatulullah...
Tanda haji mabrur yang ketiga adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal ibadah
Seorang haji yang mabrur adalah haji semakin meningkat kuantitas dan kualitas ibadahnya setelah berhaji
Jika semula ia enggan mendirikan shalat berjamaah, maka setelah berhaji ia rutin menjalankan shalat secara berjamaah
Jika semula ia enggan tadarus Quran, maka setelah berhaji ia jadi rajin membaca Quran
Namun sayang, betapa banyak jamaah haji kita yang lebih memilih menjalankan shalat wajib di pemondokan haji daripada berjamaah di Masjidil Haram
Dan sekali lagi sayang, betapa banyak jamaah haji yang lebih memilihberbelanja, foto-foto, dan jalan-jalan di waktu senggang daripda merenungi ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Quran
Naudzubillahi min dzalik....
Keempat, tanda haji mabrur adalah terjadi perubahan dalam hal muamalah dan akhlak
Muamalah adalah hal-hal yang terkait dengan hubungan sesama manusia
Terkait dengan perubahan ke arah yang lebih baik dalam bidang muamalah, Rasulullah mengajarkan kita bahwa haji yang mabrur adalah haji yang,
“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutur kata yang baik,”
(HR. Hakim, Hadist Hasan)
Terakhir, tanda haji mabrur adalah zuhud
Al Imam Hasan Al-Basri mengatakan bahwa,
“Haji mabrur adalah pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat”
Subhanallah... Inilah tanda haji mabrur yang paling berat
Ketika umat Islam mengeluarkan uang yang banyak untuk beribadah haji, dan juga sering berdoa agar uang tersebut diganti oleh Allah dengan jumlah yang lebih besar, ternyata salah satu tanda diterimanya ibadah haji adalah zuhud
Zuhud adalah sederhana
Zuhud terhadap dunia adalah biasa saja dalam mencari kekayaan duniawi
Zuhud adalah mencari harta sebatas apa yang kita perlukan, sebatas apa yang kita butuhkan, bukan sebanyak apa yang bisa kita kumpulkan, atau sebanyak apa yang bisa kita timbun
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Artinya :
“Ketahuilah olehmu semua, bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda-gurau, perhiasan dan bermegah-megah antara sesamamu, berlomba banyak kekayaan dan anak-anak,”
(Qs. Al-Hadid: 20)
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya :
“Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan mencari kekayaan, sehingga engkau semua mengunjungi kubur -yakni sampai mati,”
(QQs. At-Takatsur: 1-2)
(*) Khutbah Kedua
Innalhamdalilah, hadzanalihadza wa kunna linah tadziha laulaa an hadzaanallah...
Jamaah Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah.
Itulah arti haji mabrur. Ia menjalankan ibadah haji dengan niat yang benar, tidak riya atau pamer, didanai dengan harta yang halal, bukan dari riba atau hasil korupsi, serta ia dilakukan dengan cara yang benar
Itulah tanda haji mabrur
Ia mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal keyakinan atau aqidah atau iman, dalam hal ibadah, dalam hal muamalah dan akhlak, semakin zuhud terhadap dunia, sederhana dalam dunia,secukupnya dalam mencari dunia
Maka, kini saatnya kami ketengahkan dua doa agar menjadi haji mabrur
Namun bukan lantas membaca doa ini sekali dua kali maka selamanya kita menjadi “haji yang mabrur.”
Ada syarat agar doa terkabul, ada syarat dan tanda haji mabrur yang harus dipenuhi
Adalah kebiasaan umat terdahulu untuk saling mendoakan,
“Barra amalu...” (Semoga Allah menjadikan amalmu mabrur) kepada setiap orang yang baru selesai menunaikan ibadah haji
Barra Amalu berarti Semoga Allah menjadikan amalmu mabrur.
Juga, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar bahwa umat Islam dianjurkan untuk membaca dengan penuh harap dan rasa takut doa haji mabrur:
“Allahumaj’al hajjan mabruron, wa sa’yan masykuron, wa dzanban maghfuran,”
(Semoga Allah menganugerahkan haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni)
Wallahu’alam bish shawwab.
(Akhiri Khutbah dengan doa...)
***
Referensi :
Oleh : Irfan Nugroho
http://www.mukminun.com/2013/10/Khutbah-Jumat-25-Oktober-2013-Haji-Mabrur-Arti-Tanda-dan-Doa.html?m=1
*
Langganan:
Postingan (Atom)



